Skip to main content

follow us

Bagaimana Agar Bisa Tamasya (Liburan) Saat Sakit

Sakit itu anugerah bagi saya. Itu cara pandang saya terhadapnya. Sikap ini saya rasa paling tepat. Menganggapnya bagian dari nikmat Allah sangat ampuh membahagiakan hati.



Bayangkan, 
  1. Saat sakit anda bisa banyak berdzikir. 
  2. Waktu berkumpul bersama keluarga semakin banyak. Ini mahal sekali. 
  3. Bisa nonton film-film bagus dalam durasi waktu yang cukup.
  4. Bisa membaca buku, itu kalau tidak pusing. 
  5. Kesibukan kerja sejenak berhenti. 
  6. Santai. 
  7. Diampuni dosa peluangnya besar
Poin-poin itu bukan hanya saya mencantumkannya karena sedang menghibur diri sendiri, namun itulah keuntungan yang mau bisa anda dapatkah setelah memaknainya sebagai anugerah.

Kalau sikap anda postif maka anda akan bahagia dengan sakit anda. Meskipun bahagia itu bukan berarti tanpa kesedihan. Anda mungkin juga bersedih karena kesempatan memberi manfaat besar tidak terjadi saat anda sakit. 

3 Hal yang Membuat Anda Sakit Parah

Di dunia ada beberapa jenis penyakit yang dianggap mematikan. Dan saya akan menambahkan dengan 3 penyakit kagi.  Semoga anda tidak salah paham. 

Ghibah

Saya merasakan adanya tekanan yang hebat di area dada sekitar paru-paru saat mendengar orang sedang membicarakan aib orang lain. 

Ia membicarakan kesalahannya padahal perkara kecil dan saya menilainya bukan kesalahan. Mungkin cara pandang dia yang terbatas. Ia mengukur baju orang dengan bajunya. Yang paling menyebalkan adalah setelah ia menunjukkan kebolehannya ternyata ia tidak lebih hebat dari orang yang ia buka aibnya.  Bahkan ia kebih buruk. 

Maka karena terlalu sering menyaksikan yang seperti ini dan hasilnya selalu sama maka saya bersaksi bahwa ghibah ini adalah aktivitas yang paling berbahaya di dunia. 

Ghibah ini bisa merubah manusia menjadi binatang yang hina. Singa rela mati kelaparan dari pada memakan bangkai. Singa makanannya adalah daging segar. Ia suka memburu hewan lain dan langsung memakannya. 

Orang yang berbuat ghibah tidak ada kemuliaannya sama sekaki.  Ia bangkrut dan tidak ada yang bisa dibanggakannya lagi. Seharusnya ia sadar bahwa dia tidak bokeh banyak bicara karena tidakbada sesautupun yang bisa dia berikan kepada orang lain selain keburukan. 

Manusia pemakan daging busuk bangkai saudaranya sendiri. Manusia pemakan bangkai saja sudah hina. Apalagi ia memakan bangkai saudaranya. Alangkah mengerikannya gambaran seperti ini. 

Takabur

Saya tidak tahu mengapa tangan saya menulis kata ini. Sementara sebelumnya saya mau menulis kata ingkar janji. Semoga ini adalah taufiq dari Allah. Karena ini yang lebih tepat.

Entah salah atau tidak, orang yang suka menggunjing selalu terselip, baik kelihatan atau samar-samar, aroma ketakaburan yang baunya busuk. Orang yang punya perasaan pasti tidak senang saat seseorang menggunjing dan di sisi lain ia membanggakan dirinya sendiri.

Sesak dada saya rasanya dan perut merespon. Ingin muntah rasanya. Ia mencela orang yang dinilainya beramal hanya begitu-begitu saja sementara ia menilai amalannya seperti amalan malaikat. Orang seperti ini sangat menyebalkan. 

Hasud

Rupanya saya kembali harus merangkaikan dengannyang dua di atas satu bahasan lagi soal hasud yang tercela. Hasud ada dua, cara ada yang mulia dan ada yang tercela. 

Orang yang punya penyakit yang mematikan ketiga ini hidupnya tidak tenang. Bisa-bisa yang dua di atas sumbernya dari yang ketiga ini. 

Sikap hasud ini menyesakkan dada. Maka ia tidak rela dengan kebaikan Allah yang diberikan kepada orang lain. Maka ia mencari cara bagaimana nikmat itu hilang dari orang itu dan pindah padanya. 

Selanjutnya karena dorongan sikap ini ia melakukan hal-hal aneh. Ia melakukan propaganda dengan ghibah dan fitnah. Dengan tanpa sadar orang yang diajaknya berghibah menilainya sebagai orang sonbong, egois, dan menyebalkan. 

Itulah tiga penyakit yang bukan hanya membahayakan tapi mematikan. Dengan ghibah mematikan nama baik dan amalan habis. Dengan takabbur ia mati meskipun merasa kehidupan hanya untuknya tidak untuk yang lain. Dengan hasud kehidupan sudah menjadi kematian. Apa yang tersisa dari kehidupan kalau setiap saat hanya memikirkan bagaiamana orang lain mati. Ia bagaikan orang yang menenggak racun dan berharap orang lain yang mati. Sungguh amat bodoh orang ini hadirin. 

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar