Cerita Bahagia yang Dulu Ada Kini Terulang Kembali

Betapa besarnya perhatian seorang guru terhadap muridnya hingga tangisan pun pecah saat menyaksikan satu orang dari mereka menempuh jalan hidup yang salah. “Apa yang salah saat aku mendidiknya?” begitulah hatinya bertanya-tanya.

Bahagia itu bila muridnya tumbuh dan berkembang pada kehidupan yang senang dan menyenangkan di bawah ilmu dan kebenaran. Semua orang yang dititipkan amanah memegang tugas sebagai guru pasti merasakan hal yang sama.

Cerita Bahagia yang Dulu Ada Kini Terulang Kembali


Sudah bertahun-tahun seseorang mengabdikan dirinya sebagai guru di sebuah sekolah. Sudah lebih dari 30 tahun ia menjalankan tugas itu. Kini tubuhnya sudah tidak sekuat dulu dan rambutnya sudah putih semua.

Saat ia ditanya tentang kebahagiaan saat menjadi guru ia menjawab, “Tidak ada yang paling mebahagiakan selain saat aku bisa menjalankan tugasku dengan baik.” Seperti itu kwalitasnya guru-guru di kampung kami. Ia memang pernag mengungkapkan bahwa 1 hari saja tidak berangkat mengajar badannya terasa pegal-pegal.

Kebahagiaan itu sebenarnya selalu ada dalam hati bahkan ia tidak jauh-jauh pergi. Bila niatmu untuk bahagia lebih besar dan lebih kuat arusnya maka kamu akan menjalani hidupmu dengan bahagia. Rasa tidak senang itu hanya akan menempel bagaikan buih saja. Orang yang menghadirkan kebahagiaan itu selalu memiliki pandangan yang baik dan lurus dan kesengsaraan itu hanya menempel bagaikan debu. Ditiup sedikit saja ia hilang seketika.

Saya mendengar satu cerita yang latarnya ada di penjara. Saat seisi penjara itu semuanya murung dan tertekan, ada satu narapidana yang memainkan gitar dan bernyanyi dengan ceria. Yang mendengarnya bernyanyi lantas ikut bernyanyi bersamanya. Melihat keramaian itu lantas sipir penjara merampas gitarnya.

Besoknya, lelaki itu bernyanyi-nyanyi sambil menari hingga seisi penjara mendengarnya. Maka mulailah seisi penjara bernyanyi dan mengikuti gerakan ariannya. Sipir penjara kemudian menghukumnya dan memotong lidahnya. Kawan-kawannya sangat sedih dengan yang dialami lelaki itu. Mereka menyangka besok tidak ada yang menghibur mereka lagi.

Keesokan harinya, mereka melihat ada orang yang menari-nari dengan gembiranya. Siapa dia? Ternyata lelaki yang lidahnya di potong di ssiang hari kemarin. Ia sekarang hanya bisa menari namun ia begitu bahagia hingga seisi penjara mengikuti tariannya.

Yang ingin disampaiakn dari cerita ini adalah kebahagiaan itu tidak menunggu kaya, tidak menunggu nanti, tidak menunggu sukses dulu. Kebahagiaan bisa dirasakan sekarang juga dengan cara bersyukur dan menikmati yang ada. Kebahagiaan ada saat kamu tahu ada Allah yang menanggung hidupmu.

Banyak orang yang merencanakan kebahagiaan untuknya saat nanti kaya. Percayalah itu masih lama. Sesampainya engkau pada pase kaya itu ternyata kamu masih belum bisa bahagia. Mengapa? Karena syukurnya tidak ada dan hatimu merasa itu hanya nikmat kecil saja.

Bila kamu mengagendakan kebahagia itu nanti maka ingatlah dirimu tidak bisa menjamin hidupmu akan sampai ke sana. Maka lebih baik bersyukur sekarang dan menikmainya saat ini.

Saat kamu merencanakan akan bahagia saat kesuksesan sudah ditangan maka anda sudah kehilangan banyak waktu dan kesempatan. Kesuksesan itu adalah sat kamu bisa menjalankan kebaikan yang diperintahkan Allah. Maka rayakanlah dengan bersyukur atas nikmat-nikmatnya kepada kamu sekarang dan saat ini.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerita Bahagia yang Dulu Ada Kini Terulang Kembali"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel