Bahagia di Taman Surga, Antara Ilmu, Amal, dan Dakwah

Kebahagiaan itu ada juga dalam ilmu. Orang yang memiliki ilmu seharusnya bahagia. Demikianlah kehidupan yang mengisyaratkan bahwa hidup tidak akan bahagia kalau tidak ada ilmu.

Kelebihan orang yang berilmu adalah mengetahui dengan pasti ancaman yang membahayakan dirinya. Maka ia bisa mencegahnya. Dengan demikian ia terhindar dari bahaya.

Bila ilmu tidak ada pada diri seseorang maka ketakutannya akan bertambah. Perbuatannya akan lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Karena ketiadaan ilmu maka ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Apa pentingnya ilmu untuk amal dan dakwah?


Setelah anda mengetahui bahwa kebahagiaan itu salah satunya ada pada ilmu maka selanjutnya anda mesti pula tahu bahwa beramal mesti berilmu. 

Banyak orang yang menyangka telah melakukan amal-amal hebat namun karena ketidaktahuannya lantas ia melakukan perbuatan-perbuatan tercela, menggunjing, mempermalukan orang, dan seterusnya.

Amal yang dilakukan tanpa ilmu tidak akan diterima karena ia tidak tahu dengan pasti apakah amalnya sudah lengkap syarat dan rukunnya. 

Tentu saja yang paling berbahaya adalah ia tidak punya ilmu tentang siapa yang diibadahi. 

Sikap orang yang merasa telah berjasa besar kepada Allah karena telah banyak berkorban termasuk pada bagian ilmu.

Sumber-sumber ilmu sekarang banyak. Anda dengan mudah bisa mengikuti penjelasan ulama di media internet namun anda perlu menyaringnya juga.

Sebaiknya orang sibuk mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kewajiban-kewajibannya sebagai muslim.

Selanjutnya diiringi dengan mempelajari larangan-larangan yang tidak boeh didekati dan tidak boleh dikerjakan.

Harus ada waktu khusus untuk belajar. Siapakan waktunya.

Apa dalinya bahwa ilmu harus disertai amal?


Banyak dalil yang mengisyaratkan pentingnya ilmu sebelum amal. Bahkan dalam kitab-kitab hadits dijelaskan dalam bab khusus. Ini mengisyaratkan pentingnya hal tersebut.

Bagaimana Kaitan Ilmu dengan Dakwah?

Dakwah harus dilakukan dengan serius dan penuh strategi. Aktifitas yang sangt penting ini harus dilakukan oleh orang-orang yang mengerti dengan syariat Islam.

Untuk berpidato saja anda mesti belajar dan menyipkan bahan-bahannya, maka apalagi kalau anda menyiarkan agama tentu harus lebih intensif dalam menyiapkannya. 

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ayat tersebut diatas menyebutkan kata bashirah yang sering diartikan sebagai ilmu. Maka yang akan berdagang belajarlah Islam dengan mendalam.

Jangan cukupkan dengan hanya memiliki hapan satu hadits dan satu ayat Al-Qur’an. Tentu saja bukan tidak boleh namun itu belum cukup kalau anda berdakwah di masa kini.

Paling tidak anda tidak boleh jahil akan hal-hal yang taken for granted. Kefarduan-kefarduan dan sunnah-sunnah besar mesti anda tah dalil-dalinya.

Apa Bahayanya Orang yang Tidak Berilmu?


Sesungguhnya telah kami sebutkan sejumlah hal yang merupakan kekhawatiran kamiatas hal ini.

Dengan tersebarnya semangat berislam tentu sangat mmenggembirakan. Namun demikian semangat beramal harus disertai dan diawali dengan semangat berilmu.

Orang yang mengamalkan agama tanpa ilmu hanya akan berbuat berlebih-lebihan atau ia malah meringan-ringankan.

Yang paling parah adalah tertolaknya amalan tersebut.

Kalau orang berdakwah tanpa ilmu maka ia akan mengatakan yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Ia merasa benar sendiri dan yang lain salah.

Bila ia ditanya maka jawabannya tanpa ilmu. Bila berfatwa maka fatwanya menyesatkan. Bila ia memberi nasihat akan berlebih-lebihan. Ia menginginkan orang lain seprti dirinya.

Orang yang berdakwah tanpa ilmu hanya akan memunculkan sikap merasa benar sendiri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bahagia di Taman Surga, Antara Ilmu, Amal, dan Dakwah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel