Skip to main content

follow us

Madinah Al Munawarah, Betapa Bercahanya Kota Nabi

Nama petama yang harus kusebut adalah nama Allah SWT. Saat ingin menceritakan tentang Kota Madinah saya selalu tidak mampu melanjutkan kata-kata dalam ucapan saya. Sehingga saya mesti mengambil cara lain untuk melukiskannya. Saya memilih menulisnya agar isi hati saya yang berlimpah kalam bisa saya ringkas dalam tulisan tangan yang lebih lambat.

Bersyukur atas nikmat Allah saat menerima kebaikan adalah wajib. Dan menurut orang-orang yang khusus bahkan saat anda mendapatkan mushibah besar pun anda mesti pula bersyukur. Sampai kata-kata ini saya memang belum paham. Namun demikianlah yang pernah saya dengarkan.

Saya tidak berangkat ke Madinah tapi saya diberangkatkan. Lagi-lagi, nama Allah yang mesti sering saya sebutkan. Mengapa dari sekian ratus orang saya salah satunya yang dipilih. Betapa besar karuniaMu ya Allah. Izinkanlah saya memohon agar Engkau membawa serta Ibu dan Bapakku serta guru-guruku, tetangga, kaum muslimin, untuk menikmati indahnya beribadah di kota NabiMu.

Seseorang yang ingin aku sebut namanya namun saya malu khawatir tidak berkenan. Terima kasih telah menjadi jalan bagiku untuk menjejakkan kaki dan mencium tanah surga dan bumi para syuhada.

Betapa indahnya dirimu wahai Madinah. Pantas Nabi menyifatimu dengan Al Munawwarah. Betapa agungnya nama, penamaan, yang menamai, dan yang mengilhami nama ini. Dulu belum ada lampu ribuan watt ini namun cahaya Islam bersinar mengalahkan mentari.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar