Alhamdulillah berkat rahmat Allah kita merdeka

Kemerdekaan bagaikan batu mulia, indah, mahal, banyak dicari, standar kemakmuran dan kesejahteraan, banyak diperebutkan, dan banyak dicari. Kita kini merdeka, dengan mudah kita bernafas, berjemur, menikmati segarnya pagi hari, menyusuri indahnya ciptaan alam dengan santai dan tanpa hambatan. Kita sekarang merdeka, boleh berfikir sebebas-bebasnya, bisa berkata seluas-luasnya, berkarya dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebebas-bebasnya.

Kita sekarang merdeka, anak-anak bias sekolah di pagi hari, membawa buku dan tas digendongannya, berlari dengan penuh semangat, menyusuri gang dan jalan hingga sampai ke tempat menimba ilmu. Para petani bias menggarap sawah mereka dengan leluasa tanpa harus membayar upeti kepada tuan tanah dan para bangsawan. Para pedagang bias berdagang dengan leluasa untuk menjajakan barang dagangannya.

Ya … kita merdeka Namun bila kita mau menelisik kemerdekaan kita ini, ternyata masih ada yang kurang. Bila kita merasa adanya rasa minder dalam diri kita, berarti kita belum merdeka dengan diri kita. Bila para petani mendapati harga pupuk lebih tinggi dari harga jual padi atau beras, berarti petani kita belum merdeka, meskipun mereka tidak lagi membayar upeti kepada sang tuan tanah. Bila para pelajar hanya bias membeo da nasal-asalan dalam menuntut ilmu, berarti kita belum merdeka. Bila pisau hukum tajam ke bawah dan dan tumpul ke atas maka berarti kita belum merdeka.

Merdeka adalah nikmat yang besar untuk disyukuri. Nikmat ini mewadahi nikmat-nikmat yang lain. Anda isa shalat dan melakukan ibadah lainnya dengan aman dan tidak berada di bawah tekanan. Sungguh hidup yang seperti itulah yang diinginkan orang Palestina dan Uyghur.

Kita akan mengawal kemerdekaan ini sampai darah penghabisan. Untuk kemerdekaan yang kita rasakan kita syukuri, untuk mengisi kemerdekaan kita berjuang. MERDEKA …!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel