Kawan yang Makin Makmur

Semasa kuliah di tahun 2003 tidak banyak mahasiswa yang menggunakan mobil pribadi ke kampus. Saya kira bukan hanya mahasiswa saja tapi dosen juga belum begitu banyak yang menggunakannya. Para orang tua di kampus bahkan ada yang lebih suka jalan kaki dan dari rumahnya masih menggunakan angkutan kota.

Kemajuan manusia dari zaman-ke zaman memang terlihat sangat berbeda. Di sekolah-sekolah kalau anda lihat pasti ada tempat parkir. Dan itu akan selalu penuh hingga pengelola kadang-kadang kebingungan dengan urusan parkir ini. Karena tidak jarang luasan tempat parkir sama dengan setengah dari luas sekolah.

Saat saya kuliah ada seorang mahasiswa yang sangat cerdas yang suka membawa mobil ke kampus. Beberapa kali saya diajaknya dan saya tidak akan menyia-nyiakan ajakannya. Ia sangat dermawan. IPKnya saya tahu yang paling tinggi di semester pertama.

Saya cukup memperhatikan dan membuat catatan untuk kepentingan blog ini. Mudah mudahan ada kebaikan bagi pembaca sekalian.

Teman saya yang kaya itu tadi sangat dermawan. Satu saat kami mendapatkan tugas membuat email. Kami harus pergi ke warnet untuk mengerjakannya. Bagi kami, saya khususnya, menggunakan email itu baru pertama kali saat itu. Manusia memang sangat lihai bergelut dengan zamannya.

Teryata biaya yang hatus dibayarkan ke pihak warnet cukup besar. Dan anda tahu siapa yang mrmbayar. Perkiraan anda tepat. Yang membayar adalah mahasiswa yang kaya itu tadi. Dan saya melihat dengan mata kepala sendiri sampai habis isi dompetnya. Tapi wajahnya tenang saja dan ia sangat bahagia melakukannya. Saya tidak tahu mengapa wajahnya begitu. Mungkin di rumahnya masih ada gepokan uang lainnya saya tidak tahu.

Bukan hanya sekali dua kali ia melakukannya. Bahkan ia menjadi madu di tengah-tengah kami. Mungkin sudah tabiatnya orang kaya yang selalu dikerumuni banyak orang. Dan ia sangat dermawan.

Saya bertemu lagi dengannya beberapa tahun yang lalu. Ia tampak gemuk dan wajahnya dipenuhi bulu-bulu yang sangat serasi dengan senyumannya yang khas. Ia tampak begitu bahagia.