Emak Ingin Naik Haji

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ 

Amazing, subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar ... Kata-kata itu loncat begitu saja bagaikan senjata otomatis yang memuntahkan pelurunya. Saking senangnya mendapatkan berita gembira dari kawan saya yang membiayai ibadah haji kedua orang tuanya. Saya sudah memperkirakannya, orang-orang baik pasti akan memperoleh banyak kebaikan dari Allah.

Namun selain kegembiraan yang menyelimuti hati ini, ada perasaan sedih yang arusnya tidak kalah derasnya dengan rasa bahagia tadi. Saya teringat Ibu dan Bapak. Beliau yang lelah menafkahi namun belummampu aku membalas kebaikannya.

Rasanya ingin menangis sejadi-jadinya. Dan sejak itu siang malam aku lantunkan doa Nabi Ibrahim yang kutulis di awal tulisan ini.

Di pesawahan garapan ibu dan bapak akhirnya tumpah juga air mataku. Tidak sanggup rasanya melihat Bapak yang sedang sakit harus bekerja keras bekerja mengangkat benih-benih padi itu. Kutatap lekat-lekat wajahnya yang lelah dan dengan doa yang dalam kembali kumintakan ampunan atas diriku yang tidak becus membalas budi baiknya.

Ia mungkin tahu apa yang kurasakan. Ia selalu menyembunyikannya dan selalu mendahulukan kepentinganku. Aku belum bisa menafkahinya. Ingin sekali aku melarangnya bekerja. Namun di sisi lain belum ada kemampuan diriku membiayai dan mencukupi mereka berdua.

Keinginanku untuk membiayai pembangunan rumah kayunya yang sudah tua, membiayai hajinya, menafkahi biaya sehari-harinya, itu semua selalu kubawa dalam setiap doaku.

Naik haji bersama mereka adalah impian yang semoga jadi kenyataan. Semoga Allah mengasihi mereka berdua dan para orang tua lainnya dan menganugerahkan kekayaan dan kecukupan kepada para anak yang ingin membahagiakan orang tuanya. Amiin ...