Mengapa Ulama-Ulama Islam Tempo Dulu Begitu Produktif dalam Kepenulisan?

Mengapa  Ulama-Ulama Islam Tempo Dulu Begitu Produktif dalam Kepenulisan? 

Di antara sekina banyak rahasia kegemilangan dari ulama masa lalu soal produktifitas menulis adalah kebiasaan mereka dalam membaca buku.



Dalam tulisan ini yang kami maksud dengan buku adalah yang selain Al-Qur'an. Kalau dengan Al-Qur'an tentu saja tidak usah diragukan lagi. Mereka adalah orang yang paling tekun dalam membaca dan mempelajari Al-Qur'an.

Maka rahasia yang paling utama soal ini adalah kemampuan para ulama dahulu dalam membag waktu untuk membaca buku. Mereka melakukannya dengan baik. Bukan hanya saat santai bahkan mereka membacanya saat sakit sekalipun.

Dalam hal ini anda bisa menyimak penuturan dari Syaikh Abu Ghudah dalam bukunya “Qīmah al-Zamān ‘Inda al-Ulamā” (1988). Betpa para ulama seperti Tsa'lab, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan banyak lagi yang lainnya adalah para penggila buku.

Di antara mereka ada yang tidak mau lepas sedikitpun dari buku. Salah satunya adalah Imam Tsa'lab yang aslinya bernama Ahmafd ibn Yahya Asy-Syaibani. Kalau ia dundang ke sebuah pertemuan maka harus disediakan meja khusus yang ada buku-buku di atasnya. Dan ia akan duduk manis dan membaca buku-buku itu.

Sama seperti Imam Tsa'lab, Imam Al-Khathib Al-Baghdadi pun memiliki kebiasaan membaca buku yang sangat intensif. Pakar Nahwu Abu Yusuf Ya'qub ibn Khardaz An-Nujyrimy juga melakukan yang seperti itu.

Kalau melakukan perjalanan, para ulama dulu selalu membaca buku di atas kendaraannya atau dibacakan buku untuknya seperti Imam Abu Nu'aim Al-Ashfahani. Ia dibacakan buku sampai zhuhur dan kalau sudah ada di rumahnya ia kembali membaca buku. 

Demikian juga yang dilakukan oleh Imam Majduddin Abul Barakat. Bahkan kalau ia hendak ke kamar mandi selalu berpesan agar ada yang membacakannya sebuah buku dengan suara yang keras agar ia bisa mendengarnya saat berada di kamar mandi. 

Sikap mereka terhadap buku adalah bagaikan orang yang kehausan dan tidak pernah kenyang dengan buku-buku itu. Mereka bagaikan menemukan harta karun kalau menemukan sebuah buku yang dibacanya. 

Diriwayatkan oleh Abu Hasan Al-Atthar bahwa dalam sehari Imam Nawawi mampu menyelesaikan 12 buku untuk dibacakan di hadapan guru-gurunya. 

Kalau anda perhatikan, ulama-ulama itu sangat produktif menulis. Bahkan Ibnu Taimiyah saat menulis buku yang berisi bantahan terhadap mantiq Yunani mampu menuliskannya dari Zhuhur hingga Ashar. Cepat sekali bukan? Mungkin anda bertanya mengapa bisa begitu? Hal itu tidak mengherankan sama sekali karena ia adalah orang paling suka membaca buku.

Ketika ditanya mengenai produktifitasnya dalam menulis buku, adalah karenah beliau tidak pernah terpisah dari menelaah, membaca dan membicarakan ilmu baik ketika sakit maupun bepergian. Ibnu Qayyim dalam buku “Raudhah al-Muhibbin” bercerita bahwa suatu hari Ibnu Taimiyah sakit. Oleh dokter disarankan agar mengurangi kegiatannya dalam bidang keilmuan dan membaca buku karena itu bisa memperparah sakit.

Apa jawaban Ibnu Taimiyan? Katanya, “Aku tak kuat menahan diri dari itu. Sekarang aku tanya berdasarkan keilmuanmu: bukankah kalau jiwa gembira maka berpengaruh positif pada kekuatan tabiat (kesehatannya)?” “Betul,” dokter. “Demikian juga aku. Aku sangat senang dan gembira dengan ilmu, aku merasa kuat dan rileks dengannya,” ujar Ibnu Taimiyah. Kata dokter, “Berarti ini di luar pengotan kami."

Itulah teladan kebaikan yang sudah ditampilkan para ulama masa lalu. Mereka bisa produktif dalam menulis karena merek memiliki ilmu dan pengetahuan serta pengalaman yang luas. Maka bagaimana seseorang mampu menulis kalau isi kepalanya tidak ada. Agar ilmu ada salah satunya dengan cara banyak membaca.