Mendengar Cerita yang Maha Kaya

Masih banyak orang susah yang mesti anda bantu. Makanya anda begitu menginginkan kekayaan itu bukan. Tujuan mulia untuk memberikan kebahagiaan dengan mereka yang tidak beruntung adalah kebaikan.

Bayangkan bagi mereka yang tidak memiliki kekayaan seperti anda mau makan saja susah. Mau pergi mengaji ke suatu tempat terkadang berat di ongkos. Terus kalau mereka anda bantu betapa bahagianya anda. 


Bukankah itu yang anda rasakan saat membantu orang lain. Siapa yang hatinya yang merasakan bahagia lebih dahulu. Tentu saja yang memberi. Itulah yang ditakdirkan Allah dalam fitrah kehidupan.

Untuk memberikan bantuan secara sukarela memerlukan perjuangan dan kesungguhan yang tidak sedikit. Ada rasa perih karena melepaskan sesuatu yang selama ini dikumpulkan. 

Namun di saat yang sama anda akan mendaptkan manfaat langsung dari perbuatan itu. Hati anda menjadi lapang dan anda akan merasakan semesta tersenyum dan mendukung anda sepenuhnya.

Tidak usah biarkan semua berlalu begitu saja. Tambahkanlah sedekah anda dan kekayaan anda tidaka akan berkurang. 

Al-Qur'an bercerita tentang Nabi Ibrahim. Apa yang ia lakukan hingga menjadi teladan sepanjang masa. Bukan hanya umat Islam yang mengakui keteladanannya. Bahkan kaum Nasrani dan YUhidi sering membanggakan diri dengannya.

Kalau ada tamu, tanpa berpikir panjang lagi Nabi Ibrahim segera menyembelih seekor kambing muda yang gemuk dan sehat. Maka rumah Ibrahim menjadi teladan kedermawanan. Dan tahulah sejarah bahwa kekayaan Ibrahim semakin bertambah.

Kedermawanan ini demikian berlanjut hingga dalam kisah Nabi Yusuf semakin jelas adanya. Betapa tidak. Meskipun sejak kecil hidupnya penuh derita dan selalu dizalimi namun ia sangat dermawan. Hati yang dermawan itu mengangkatnya menjadi orang yang kaya dan dihormati.

Mendengar kisah Al-Qur'an dari yang Maha Kaya akan semakin menguatkan anda untuk menjadi kaya. Ternyata kaya saja tida cukup kalau tidak dermawan. Karena hakikat kaya tu memberikan hartanya seperti yang tidak membutuhkannya lagi.