Keajaiban Berserah Diri

Lebih dari tiga kali mereka mengulang-ulang bacaan surat Yasin itu. Adakah yang bisa dipahami. Asyiknya mereka mengeja setiap kata hingga punggung meliuk kiri dan kanan secara teratur. Suasana syahdu mulai menyelimuti sanubariku yang sedang hancur.

Kuletakan tas kecil dipaha dan mulai mencari Kitab Suci Al-Qur'an yang sudah lama tidak dibuka. "Beruntung sekali" pikirku "aku bisa mengaji bersama mereka".

Banyak persoalan hidup bisa selesai dengan jalan membaca Al-Qur'an. Allah mencintai yang membaca kitab-Nya dan akan mengabulkan permintaannya. Demikian seorang yang dipanggil Ustadz pada pengajian itu.

Nasihat ustadz tadi terus terngiang. Dari buku-buku dan ceramah banyak juga saya dengarkan hal yang sama persis seperti yang disampaikannya. Tapi kali ini merasa baru pertama kali aku mendengarnya. Mungkin karena saat itu aku membutuhkan tambahan keyakinan.

Utang yang memberatiku terasa begitu memayahkan. Benar kata orang utang itu kalau malam merusak impian dan kalau siang berubah jadi ketakutan.

Setelah lama berselang, utang malah bertambah. Pertanyaan silih berganti mengusik pikiran. "Bukankah aku sudah berdoa agar utangku segera lunas."

Mungkin saat itu aku kurang pasrah. Bahasanya bukan tidak ada uang untuk membayar, yang tidak ada adalah ketaqwaannya.