Gerakan Kekayaan dalam Lisan yang Beristighfar

Masih ada waktu senggang, semoga anda tidak jemu dengan tulisan yang berputar-putar tidak karuan. Sejatinya saya sedang resah kalau tidak dituliskan. Takutnya nanti lupa. Kalau ada satu kata yang menginspirasi saya harus segera menuliskannya karena kalau nanti hilang akan sulit bagi saya untuk mengingatnya kembali. Dan ini kerugian besar bagi saya.

Anggap saja anda sebagai editor. Lakukanlah koreksi atas penulisan saya ini. Mudah-mudahan anda diberikan balasan terbaik dari Allah SWT. Sejatinya saya membuat cerita bersambung tentang kekayaan ini karena saya ingin kaya terus soleh. Maaf keliru, harusnya soleh dulu baru kaya. Karena kesolehan adalah keayaan sejati. Tapi soleh saja tidak cukup saya ingin bermanfaat luas.


Begitu yang saya dengar tadi pagi saat berjumpa seorang kawan di kantin tempat kerja. Saya menuliskannya karena merasa ada kesamaan visi-misi. Jadi selain menambah paragraf ini bisa juga mengajak anda menjadi pribadi yang kaya dan soleh. Ini penting, catat!

Sejatinya saya merasa terganggu dengan celotehan sebagian orang yang menilai doa sebagai sesuatu yang tidak berarti apa-apa. Saya tidak tahu apakah mereka sudah begitu hebat terjangkit penyakit materialistis yag semuanya seba benda. 

Khawatir dan riskan bila pandangan orang lebih ke materi selalu. Tidak ada lagi tempat untuk beriman pada yang ghaib. Sesuatu yang ghaib sering disamaratakan dengan mitos yang tidak beralasan. Hingga sampai pada sebuah doa pun dinilai tidak berarti.

Tapi saya membaca dalam sebuah buku bahwa dulu ada seorang pemimpin redaksi sebuah penerbitan yang terkena stroke. Tapi dalam sakitnya ia mampu menghasilkan karya tulis yang sangat baik. Isinya adalah memotivasi manusia agar menghargai kehidupan dan bersyukur atas nikmat-nikmat Tuhan. Banyak yang sadar dan kembali kepada Tuahn setelah membaca buku ini.

Apakah anda tahu bagaimana orang yang terkena stroke, seluruh badannya lumpuh total, bisa menghasilkan karya. Ternyata orang itu memiliki organ tubuh satu-satunya yang bisa bergerak yaitu mata kirinya. Dan ia bersyukur walaupun abadannya lumpuh tapi otaknya masih waras. 

Ia menulis dengan menggunakan kedipan mata kirinya itu. Pembantunya menunjukkan huruf-huruf dan kalau ada huruf yang dimaksud ia mengedipkan matanya. Terus demikian hingga rampung satu buku dan diterbitkan.

Kalau membaca kisah ini saya ingin menggunakanny untuk mencari kekayaan dari Allah dengan menggerakkan lisannya. Kalau yang anda miliki saat ini adalah lisan yang eristighfar dan berdoa maka lakukanlah. Teruslah demikian hingga Allah menampakkan karyanya kepada anda.