Bagimana Bisa Malaysia Mempertahankan Posisinya Memimpin Keuangan Syariah secara Global?

Sampai tulisan ini saya luncurkan, saya mulai membenarkan ungkapan yang menyatakan bahwa tahu saja tidak cukup. Harus ada kemauan. Kemauan saja memang tidak cukup tapi perlu adanya kegigihan. Saya tidak sedang berbicara soal motivasi tapi apa bisa lepas dari itu termasuk saat harus menulis soal keuangan.

Terus terang saya merasa senang adanya pemberitaan bahwa Islamic Finance Country Index (IFCI),  menempatkan Malaysia di atas daftar negara-negara yang memimpin industri syariah secara global. Namun di sisi lain saya sangat berharap ada nama Indonesia dalam kemenangan itu. Ironis negeri yang penduduknya muslim terbesar di dunia tapi ekonominya tidak diatur ajaran Islam. Miris ...

Kesuksesan Malaysia ini mengapa tidak ditiru. Jangan ada kata yang membuat bangsa ini mudur hanya karena tidak mau dikatakan mencontek. Mengambil sesuatu yang baik dari bangsa lain adalah keharusan. Karena hikmah itu milik siapapun yang mau mengambilnya.

Dengan diterapkannya ajaran Islam di seluruh lini kehidupan terbukti membuat rakyat lebih sejahtera. Islam mengajarkan kebaikan yang sempurna dalam kehidupan. Kalau belum yakin mengapa tidak belajar ke negeri tetangga.

Datuk Amiruddin Hamzah menyatakan “Saya percaya bahwa langkah industri menuju merangkul VBI (intermediasi berbasis nilai) akan semakin memperkuat posisi kepemimpinan Malaysia, dan memajukan pertumbuhan keuangan Islam untuk menghasilkan dampak positif dan berkelanjutan terhadap ekonomi, masyarakat dan lingkungan,” (Hidayatullah)

Maka dengan demikian anda bisa melihat adanya kemajuan yang signifikan. Siapa saja yang mengamlakn ajaran agama Islam maka Allah akan memberikannya keakmuran. Namun kalau tidak yang ada adalah kesengsaraan. Akan terjadi kesemerawutan dalam negara bila orang-orangnya mengabaikan hukum-hukum Allah. 

Yang hebat lagi adalah ketangguhan ekonomi syariah yang diterapkan di Malaysia menampakkan ketangguhan ditengah-tengah krisis ekonomi global yang tidak menentu.