Mengapa Saya Harus Bahagia?

by Sarip Hidayat , at Oktober 23, 2018
Bismillah
Lagi senggang? Saya mau cerita singkat.
Saya masih ingat saat baru bertanya dan mencari tentang makna kebahagiaan. Sempat saya mencari pertanyaan-pertanyaan tentang ini. Sampai-sampai di tahun 2004 saya sempat membeli sebuah buku karya Jajaludin Rahmat.
Saya baca secara seksama. Dengan gaya bahasa yang mengalir khas penulis akademis yang mahir saya terbawa jalan pikiran di buku itu. Saya sering mengiyakan pernyataan-pernyataan langsung dari penulis ataupun quotes yang dikutipnya.
Cerita singkat di atas kembali berulang dan terus berulang seiring pertanyaan besar tentang makna kebahagiaan itu. Dan kalau saya pikir-pikir lagi betapa sering saya merasakan kebahagiaan secara tiba-tiba dan seketika tanpa rencana dan tanpa saya bayangkan di awal.
Saya mau cerita lagi, masih ada waktu?
Saat di usia SLTA begitu kuatnya keinginan untuk belajar agama lebih intensif. Hingga saking inginnya saya berani mengatakan dan meminta orang tua saya untuk mendaftar di sebuah pengajian. Sesungguhnya jarak lembaga itu jauh sekali dari tempat tinggal kami.
Saat saya menerima jawaban OK dari Ibu dan Bapak saya hati terasa dipenuhi bunga-bunga. Saya menyebutnya “saya bahagia”. Saya senang sekali. Saat itu saya merasa tidak ada kesedihan. Saya kira bahagia itu tidak sedih.
Karena bahagia itu saya berangkat sore hari sepulang sekolah menemuh jarak sekitar 5 KM jalan kaki. Semua dilakukan dengan hati yang ringan dan senang. Sama sekali tidak ada rasa berat saat melangkahkan kaki menuju tempat yang membuat saya bahagia.
Padahal, di saat itu, apalagi masa-masa usia SMA, yang saya tahu dan saya saksikan, begitu diliputi dengan romantisme dan kesia-siaan. Jalan sana jalan sini, nngkrong saya nongkrong sini. Tapi saya senang saja menjauhi semua itu.
Jujur, duku Saya tidak kepikiran tentang mengapa saya harus bahagia? Apalagi dengan MENGAPA yang sangta besar sekali. Yang saya tau bahkan sampai sekarang bahwa kalau saya melakukan atau mendapatkan sesuatu yang bermanfaat maka saya harus berbahagia.
Mengapa saya arus berbahagia?
Sesungguhnya saya mendapatkan jawaban yang sangat banyak sekali untuk pertanyaan. Meskipun saya tidak tahu dalil-dalinya di Kitab Suci namun setidaknya saya banyak mendengar sejumlah ceramah yang berhubungan dengan ini.
Pertama KEBAHAGIAAN ITU MENYEHATKAN
Sayamendengar bahwa mereka yang hatinya bahaga akan sehat. Pertanyaannya sehat apanya? Bukankah tema-tema kebahagiaan itu sering kita dapatkan dari orang-orang yang sakit?! Adakah paradok di sin?
Saya berpikir tidak ada tolak belakang dalam hal ini. Justru kebahagiaan itu adalah sejenis dengan kesehatan. Ini pernyataan saya. Mungkin anda bisa menerima pernyaan sederhana ini. Jadi bahagia itu sehat. Sehat itu bahagia.
Kalau begitu, bahagia adalah kondisi jiwa. Maka kalau anda bahagia berarti anda sehat jiwanya.
Lantas apa pengaruh kebahagiaan terhadap jasmani?
Saya pernah membaca sebuah tulisan yang bagus untuk hal ini. Meskipun saya tidak ingat detinya. Anda bisa membandingkan dua kondisi yang berbeda. Coba anda lihat anak-anak yang sedang bermain. Berlari ke sana ke mari.
Kalau anak-anak bermain dan lari-larian kejadian yang paling sering akan mereka alami apa? Ya orang yang sering berlari resikonya akan sering juga jatuh. Tapi tidak apa-apa jatuh asal bisa bangun kembali.
Poin saya adalah apakah saat anak-anak itu terjatuh merasakan rasa sakitnya? Hampir-hampir anda akan menjawab ya. Anak-anak itu meskipun sangat sering terjatuh tapi karena hatinya sedang bahagia, terlihat dari tertawanya, mereka bangkit dan berlari lagi.
Begitu juga yang terjadi pada anda dalam sebuah kumpulan bersama kawan-kawan. Kalau canda tawa pecah lantas anggota badan anda, tangan anda, menyenggol sesuatu yang seharusnya, dalam kondisi normal, anda akan kesakitan. Tapi saat itu rasa sakit itu seolah-oalah tidak terasa, atau minimal berkurang.
Saya menrik ini lebih jauh seperti seorang ibu yang sedang berjuang melahirkan anaknya. Semoga para ibu semua diberikan semua kebaikan dari Allah SWT. Manusia tidak mampu membalas jasanya.Hanya doa tulus yang dipersembahkan untuk ibunya manusia.
Meskipun darah keluar dan rasa sakit sudah tidak tertahankan namun semua itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang tumpah ruah meliputi is hati. Kebahagiaan itu pun luber hingga merambah ke semua sudut ruangan, rumah, dan menggetarkan hati yang lain hingga menyelimuti bumi dengan  doa yang in sya Allah tembus ke langit.
Saya menyaksikan kejadian ini berulang kali. Dan semua membuktikan apa yang saya nyatakan tadi. Bahwa kebahagiaan itu akan membuat jiwa seseorang menjadi lebh sehat.
Turunan dari kebahagiaan adalah mudah sekali berbagi, pikiran menjadi positif, hati terasa lapang, dan seterusnya.
Karena pengalaman ini saya menyimpulkan, “Betapa indah hidup dalam kebahagiaan”. Maka saya mesti bahagia agar saya bisa menikmati hidup.
Hidup yang bahagia itu bukan berarti tanpa tagisan atau sama sekali tanpa ada air mata. Namun karena dasarnya bahagia maka tangisan yang terjadi semoga menjadi tangisan bahagia. Itu karena saking bahagianya.
Sering sekali saat hati tersentuh atau terinspirasi air mata mengalir di pipi tanpa terasa. Saya menyimpulkan bahwa kebahagaan itu akan ada kalau sisi kemanusiaan kita yang tertinggi tersentuh dan kita berada di jalur yang benar.
Kedua
KARENA KEBAHAGIAAN ITU MENULAR DAN MEWABAH
Untuk yangkedua ini saa sering sekali mengalaminya. Saat hati merasakan bahagia maka lingkungan sekitar mejadi hijau bagaikan di taman bunga. Dunia menjadi berwarna-warni bagaikan pelangi. Pokoknya sangat indah.
Suatu saat saya masukke sebuah kelas dengan hati yang sangat bahagia. Sebelum berangkat ke tempat saya mengajar, saya sudah membantu orang. Membahagiakan rasanya. Dan saya masuk kelas dengan sangat bahagia.
Sekarang saya renungkan, saat itu pelajaran cukup serius, dikatakan cukup sulit juga diapahami. Ini terbukti banyak pelajar yang gagal paham tentang yang satu ini. Saat itu saya menyampaikan materi tentang Ism Dhamir. Sebenarnya bukan hanya siswa yang sering gagal paham. Bahkan saya sebagai guru saat itu sering juga salah mengaplikasikan. Begitulah terkadang teori sama praktek beda jauh.
Saat tulisan ini saya buat saya masih bertanya. Apa yang menjadi sebab pembelajaran menjadi sangat menyenangkan saat itu. Kalau soal materi pasti sudah siap di kepala dan buku diktat yang saya bawa ke ruangan kelas.
Tapi kalau saya bandingkan ada yang berbeda. Saat saya menjelaskan materi yang sama di tahun yang lalu denga saat keadia tersebut. Saya menarik simpulan bahwa kebahagiaan yang ada dalam hati saya menular kepada siswa-siswa saat itu. Apakah ini bisaberulan aya yakin bisa. Karena saya lihat orang-orang yang bahagia itu sangat menyenangkan. Maka denga demikian saya tulis bagian ketiga ini.
KARENA BAHAGIA ITU MENYENANGKAN
Soal kebahagiaan yang menyenangkan sedikit banyak sudah saya ulas di atas. Namun soal orang yang bahagia itu menyenangkan bisa jadi kesan saya. Saya tidak tahu bagaiman anda memberikan sudut pandang untuk hal ini.
Tapi pengalaman saya semakin menguatkan hal ini. Kalau bertemu dengan jamaah di shubuh pagi dan setelah bubar shalat kami biasa bercengkrama dan mendengarkan ceramah ustadz sambl santai. Ternyata aura yang kena ke hati saya adalah aura kebahagiaan. Duduk-duduk dengan orang-orang yang saya nilai bahagaia itu ternyata menyenangkan.
Tanda-tanda orang yang bahagia itu bisa secara cepat anda ketahu dari wajahnya. Bukankah begitu? Orang bila bahwa wajah itu adalah wakil utama atau bisa dikatakan brand ambassadornya seseorang. Maka kalau anda lihat banyak senyuman di wajah yang ceria, hampir bisa dipastikan bahwa orang itu sedang bahagaia, kecuali dia menyembunyikan sesuatu. Tapi tenang saja, kita tidak diminta meneliti seseorang hingga ke dalam hati dan niatnya. Cukup yang andalihat saja.
Kalau saya, akan sangat menyenangkan mendengarkan ceramah yang disamaikan dengan mimik muka yang segar, berseri, penuh senyuman, binaran mata yang tajam, dan sikap tubuh yang gesit dan penuh perhatian.
Coba anda bayangkan ada yang mau memotivasi anda tapi dengan wajah mengkerut, mata merah penuh amarah, kata-kata yang keluar juga keji menusuk hati. Kalau anda mau memilih, mau pilih yang mana.
Sebelum dilanjutkan, saya mau menulis sebuah kesan. Boleh?
Pertama tulisan saya bisa sepanjang ini. Sesungguhnya saya senang menulis namun belum bisa menulis seperti yang mereka tulis. Maksudnya ara penulis yang sering saya baca tulisannya seperti Dr Adian Husaini dan yang lainnya.
Saya sering belajar juga menulis. Tapi sejujurnya saya ingin menulis ebuah tulisan ang panjag Dan Alhamdulillah kesampaian. Saya juga menulis di blog pribadi saya, sariphidayat.com. Dan saya kira ini tulisan yang paling panjang.
Baik saya lanjutkan dulu. Dan bagian selanjutnya saya ingin cerita. Apa yang paling membuat saya bahagia saat ini.
Yang paling membuat saya bahagia itu sebenarnya ada dua secara global. Pertama, saat pengetahuan bertambah. Perantaranya adalah dengan membaca buku, memperluas pertemanan, ikut kajian, termasuk bimbingan menulis seperti ini.
Kedua, saya bahagia apabila ilmu yang saya nilai bermanfaat bisa saya terapkan dan membagikannya kepada orang lain.
Saya beruntung bisa ikut kajian. Karena saya sering mendapat inspirasi dari mendengarkan ceramah. Dalam hati sering berucap “wow, wah wah ini dia, … dan seterusnya”. Dan yang paling lebih bahagia adalah apabila bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat dengan menggunakan ilmu tersebut.
SHARING SEDIKIT SOAL SEDEKAH DOA
Akhir-akir ini saya sering mempraktekkan sebuah ilmu yang saya dapatkan dari sebuah tulisan. Apa itu? Mendoakan kebaikan untuk orang lain. Saya sering menyebut nama-nama orang yang saya kenal dan saya doakan yang baik-baik untuk mereka.
Awalnya biasa saja.
Namun saat saya rasakan dan praktekkan, ternyata saya merasa lebih bahagia dari biasanya. Tentu praktek ini ada kaitannya dengan bagaian lain dari tema besar kebagaiaan dan  cara meraihnya.
Salah satu yang mesti saya catat adalah soal berbagi kebahagiaan.
Poin kedua yang paling membuat saya bahagia, seperti catatan di atas adalah soal memanfaatkan ilmu dan membagikannya kepaa orang lain.
Ini sangat saya rasakan dan terbukti ampuh membuat hidup saya lebih bahagia.
Tapi ingat, saya baru berbagi doa saja, hanya saya bacakan Al-Fatihah untuk satu orang yang saya sebut namanya. Kalau 10 nama yang saya sebut maka Al-Fathah saya baca 10 kali jua atau lebih.
Saya merasa bahagia dengan berbuat hal kecil dan sederhana tadi. Maka tentu anda sudah mendahului saya dalam hal ini. Karena anda sudah tahu an mempraktekkannya sejak 10, 20, 30, 40, 50 tahun yang lalu. Namun tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik.
Itu baru berbagi doa. Apalagi bila anda bukan hanya mendoakan orang lain, bahkan anda kirimkan uang, berikan makanan, anda umrahkan, anda hajikan, anda bangunkan rumahnya, anda fasilitasi kebutuhannya.
Lebih ajaib lagi kalau anda membantu bukan hanya satu atau dua orang. Lebih akan sangat mencengangkan kebahagiaan yang anda rasaan bila ribuan orang yang anda bantu maka saya yakin aura kebahagiaan akan selalu menyertai anda.
Selanjutnya saya mendapati bahwa berbagi inimerupakan bagian yang tidak terpisahkan dari syukur dan sabar. Berbagi adalah menampakkan nikmat Allah dan tidak menyembunyikannya. Da berbagi adalah bersabar dari keegoan dan kerakusan serta kebakhilan yang sering menggoda dan memenjara.
Saya ingin mengatakan, di akhir tulisan ini bahwa dengan jalan ibadah kepada Allah maka anda akan bahagia dan kaya. Karena yang mendekat kepada Allah akan mendapatkan sinaran rahmatNya. Kalau ahati sudah penuh dengan rasa bahagia bersamaNya maka tidak ada yang akan membuatnya sedih lagi.
Namun ini perlu latihan. Semoga tulisan in terus menjadi pelajaran bagi saya. Karena untuk menggapai yang saya tulis itu sangat sulit kecuali kalau Allah memberikan kemudahan.
Sebelum berakhir, saya ingin menggenapi tulisan ini dengan sebuah pengalaman sederhana. Kemarin adalah hujan pertama yang turun setelah masa kemarau. Cukup lebat datangnya hujan. Turun saat adzan maghrib berkumandang.
Dalam hati saya terbersit untuk shalat maghrib di rumah saja. Namun hati kecil saya mendorong untuk berangkat shalat ke masjid. Akhirnya saya paksakan untuk berjamaah ke masjid.
Dan di masjid yang ikut jamaah hanya dua shaf saja. Lebih sedikit ari biasanya.
Awalnya biasa saja.
Tapi lama-lama saya merasa bahagia. Saya juga tidak tahu alasan dan sebabnya. Tapi saya kira karena alam bawah sadar saya sudah merekap bahwa shalat itu baik dan menilai. Karena mungkin itu yang ada dalam kesan batin saya maka saya pun bahagia dibuatnya.
Sekali lagi dengan jalan ibadah hidup akan bahagaia. Siapa yang membuat anda bahagia?
Semoga pertanyaan ini bisa membuat saya menulis lagi. Amiin
BIODATA PENULIS
Nama
:
Sarip Hidayat

Alamat
:
Kp. Girang RT 001 RW 004 Desa Cidamar Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur Jawa Barat 43275


Sarip Hidayat
Mengapa Saya Harus Bahagia? - written by Sarip Hidayat , published at Oktober 23, 2018
Comment disabled
Copyright ©2013 Sarip Hidayat by
Theme designed by Damzaky - Published by BLOG MR.W
Powered by Blogger