Sebuah Senyuman Pembangkit Semangat

by Wita Saida , at September 11, 2018

Anakku Tersenyumlah

Seminggu sudah saya berduka. Putri kecilku "dipaksa" berdiam di rumah. Bukan karena tidak ingin bermain. Namun ia mendapatkan musibah yang berat. Tangisannya yang keras sungguh menyata hati. Itulah yang membuat kepalaku tertutup aan hitam. Hasbunallah !!!

Kini putri kesayanganku sudah kembali menebar senyuman. Aku pun berangsur mulai bisa menerima kenyataan. Yang paling berat kurasakan adalah rasa sesal yang menyesakkan dada. kata-kata "seandainya ... kalau ... ... ... " benar-benar "hampir-hampir" membinasakanku.

Senyumanmu Wahai Putri kesayanganku kembali membangkitkan semangatku. Memang seharusnya aku yang harus menangis. Karena karena kelalaianku kamu menangis dan kamu tidak tahu akulah penyebabnya.


Catatan Pagi Hari

Aku memang tidak merokok tidak pula begitu suka ngopi. Bila di pagi hari aku paling suka lari pagi atau melakukan aktivitas lainnya. Kali ini aku ingin menuliskan tulisan ini dan menyatakan begitu sayangnya aku padamu.

Harapanku kamu akan jadi orang yang baik dan memperjuangkan kebaikan itu tersebar. Berkumpullah dengan orang-orang baik agar kamu juga menjadi kuat. Bimbinglah orang-orang yang mulai menyukai kebaikan. Ketuklah pintu hati yang masih tertutup dari kebaikan.

Senyuman Istriku yang Menenangkan

Saat kami menangis, ada seorang ibu yang senyumannya menenangkan. Ia begitu tegar memelukmu yang kesakitan. Ia yang mampu menenangkanku. Ia orang yang kuat. Kuharap engkau mewarisi kebaikannya.
Sebuah Senyuman Pembangkit Semangat
Sebuah Senyuman Pembangkit Semangat - written by Wita Saida , published at September 11, 2018
Comment disabled
Copyright ©2013 Sarip Hidayat by
Theme designed by Damzaky - Published by BLOG MR.W
Powered by Blogger