Psikologi Puasa: Sebuah Pengalaman

by Wita Saida , at Juni 20, 2018
Bila anda mendapatkan nikmat yang mesti dilakukan adalah bersyukjr. Tulisan ini mudah-mudahan termasuk ke dalam.cakupan makna bersyukur itu. Bila definisinya menggunakan nikmat sesuai perintah Allah maka semoga ini menjadi bagian yang terhimpun dari kata syukur itu.

Saat menulis artikel ini saya sedang dalamn keadaan puasa. Yang ingin sekali saya sampaikan ke hadapan anda semua, saat ini saya bisa merasakan suasana yang nyaman terutama di hati saya. Ini yang pertama kali harus saya syukuri.

Kemudia saat menjalani hari-hari dalam.keadaan puasa saya bisa mengatakan bahwa saya lebih tertarik untuk berbuat baik. Danbyangbpaling sangat saya sukai adalah lebih terjaganya hati dari perbuatan yang buruk.

Dari dua hal itu saya menerawang ke sejumlah kisah di zaman dulu. Ternyata yang bukan Islam agamanya pun mereka melakukan puasa dengan beragam cara. Ada yang menahan bicara, bergaul, dan seterusnya. Dan anda tahu kisah mereka. Jiwa mereka suci dan kenudian memiliki kesaktian-kesaktian.

Tujuan puasa dalam Islam bukan untuk menjadi sakti. Tapi kalaupun anda menjadi orang sakti itu adalah kabar gembira. Saya meyakini bahwa puasa akan membuat seseorangbyang mengerjakannya lebih baik hidupnya.

Selanjutnya, dari puasa ini saya menjadi lebih meyakini bahwa kesenangan dan kebahagiaan kalau diperoleh dengan menahan diri dari hawa nafsu maka hasilnya lebih manis dan tentu abadi.

Bila manusia yang melakukannya sudah banyak sekali contohnya. Bahkan hewan pun ternyata berpuasa untuk meningkatkan kwalitas dirinya. Saya membaca, singa lebih memilih mati kelaparan dari pada harus merendahkan dirinya dengan memakan bangkai. Singa saja mengetahui bahwa matinya itu lebih berharga.
Psikologi Puasa: Sebuah Pengalaman
Psikologi Puasa: Sebuah Pengalaman - written by Wita Saida , published at Juni 20, 2018
Comment disabled
Copyright ©2013 Sarip Hidayat by
Theme designed by Damzaky - Published by BLOG MR.W
Powered by Blogger