Doa Sang Kucing

by Wita Saida , at Juni 05, 2018
Kali ini saya mau bercerita apa yang saya alami malam tadi. Seusai Tarawih orang-orang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan bola antara dua kesebelasan. Dan saya pun menggabungkan diri dengan mereka.

Saat pertandingan memasuki waktu istirahat saya pulang dulu ke rumah orang tua saya yang lokasinya dekat dengan lokasi nonton bola bareng. Tujuan saya ingin buang air kecil. Setengah berlari saya berniat segera ke kamar kecil.

Namun, belum tiba di tempat tujuan saya mendengar suara anak kucing dengan nada yang tidak enak didengar. Setelah saya hampiri dan menyorotinya dengan senter smartphone ternyata ada anak kucing yang badannya terlilit jaring.

Saya berupaya melepaskannya. Namun saya tidak bisa karena jaringnya kuat sekali. Setelah beberapa saat mencoba melepaskannya ternyata saya tidak bisa. Saya berpikir harus diputuskan memakai pisau.

Kemudian saya meminjam pisau kepada Mang Agus yang sedang asyik menelepon. Saya katakan saya mau meminjam pisau, karena ada anak kucing yang dililit jaring. Akhirnya ia memotong jaring itu dan kucing pun lepas.

Saya menyaksikan penderitaan anak kucing itu merasa sangat iba. Sampai-sampai saat kami berupaya melepaskannya saya tidak banyak berkata-kata karena merasa iba. Saya membayangkan makhluk lemah tidak bisa berbicara kemudian di malam hari terkena musibah. 

Namun saya menarik hikmah dari kejadian ini. Saya yakin saat bersuara itu, kucing tadi meminta pertolongan. Mungkin kepada induknya, manusia, dan saya yakin ia berdoa kepada Allah dalam penderitaannya.

Saya yakini ini. Dan Allah memberikan jawaban untuknya dengan membuat saya kebelet ingin buang air kecil. Saat tulisan ini saya susun saya masih memikirkan peristiwa besar menurut saya. 

Mengapa saya tidak buang air kecil di WC masjid yang dekat dengan lokasi saya nonton malah saya pulang ke rumah orang tua saya padahal lokasi WCnya lebih jauh dari WC masjid?

Lantas saya mengapa saya menggunakan jalan yang ada kucing sedang terkena musibah padahal saya biasa menggunakan jalan lain yang bukan jalan itu? Mengapa juga harus ada Mang Agus di sana? 

Saya yakin ini kehendak Allah untuk menyelamatkan kucing tadi. Saya mendapatkan hikmah banyak malam tadi. Hewan saja kalau berdoa dikabulkan doanya apalagi manusia yang lemah ini. Maka jangan berhenti dan jangan bosan berdoa karena Tuhan tidak bosan memberikan jutaan nikmat kepada kita.

Rangkaian kata hati saya saat ini berkenaan dengan kejadian tersebut masih sangat panjang. Semoga ada kebaikan di dalamnya. Dan saya tidak kuasa untuk menahannya untuk diri saya sendiri. Meskipun ini bukanlah peristiwa yang menghebohkan semesta namun setidaknya saya memiliki persepsi bahwa ini sangat bermakna dalam hidup saya.

Kemudian, saya bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa kamu begitu iba kepada nasib si anak kucing itu? Apakah rasa kasihan itu ada apabila ada anak manusia yang juga mendapatkan kesusahan. Akankah kamu memberikan bantuan?

Sampai kata-kata ini terbersit di dalam hati, rasanya saya ditombak dari depan tepat di ulu hati hingga tembus ke punggung karena saya merasakan demikian hebatnya pertanyaan ini. Saya belum mampu dan hanya air mata dan doa yang baru bisa saya panjatkan. Namun saya masih bahagia masih ada perasaan itu. Saya takut rasa sayang dan cinta kepada sesama hilang dari lubuk hati.

Sampai di sini dulu cerita saya tenang doa si anak kucing. Maafkan saya dan doakan saya dengan doa anda yang terbaik. Saya memohon kepada Allah agar menjaga anda dalam iman dan taqwa selalu keapadaNya.
Doa Sang Kucing
Doa Sang Kucing - written by Wita Saida , published at Juni 05, 2018, categorized as Doa
Comment disabled
Copyright ©2013 Sarip Hidayat by
Theme designed by Damzaky - Published by BLOG MR.W
Powered by Blogger