Andai Kamu Hidup di Zaman Nabi Muhammad SAW

Banyak orang berpikir ingin hidup di zaman Nabi. Berarti ini serius. Karena faktanya berpikir itu lebih serius dari pada membayangkan. Meskipun "kayaknya" membayangkan adalah bagian dari aktivitas berpikir.

Membayangkan kamu berada di zaman Nabi tentu "sah-sah saja". Apalagi bila itu timbul dari rasa rindu dan cinta kepada Nabi. Ekspose akhlaq Nabi yang sangat mempesona memang menggerakan hati untuk ingin berjumpa.

Baca juga:

Pertanyaannya, apakah kamu kalau dihidupkan Allah sezaman dengan Nabi akan berperan sebagai pengikutnya atau malah mendurhakainya. Di sinilah letak urgensi larangan berangan-angan terlalu jauh.

Memang lebih baik menikmati hidup di masa kini. Kalau kamu beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi dari Allah SWT tentu itu anugerah yang besar. Bukankah lebih enak sekarang. Kamu tidak perlu perang dan diintimidasi segala.

Kalau kamu "tetap" pada keinginan kamu, itu pun "boleh-boleh saja". Yang jelas manusia zaman dulu ada yang berimana kepada Nabi seperti Abu Bakar, ada juga yang ingkar seperti Abu Jahal. 

Siapa bilang enak jadi sahabat. Jadi mereka itu luar biasa sulitnya. Akankah kamu mampu sekuat Bilal yang dijemur di bawah teriknya mentari padang pasir dan ditindih batu panas. Akankah kamu sekuat Khabbab ibn Al Aratt yang dipanggang di bara apai hingga api padam karena leehan lemaknya.

Kerinduan bersua dengan Nabi semoga menjadi penyuburr iman, penguat keyakinan, pelindung dari keraguan. Membaca kisah0kisah masa lalu dari para sahabat membuat semangat hidup dalam naungan Islam semangat bergelora.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.