Aku dan Facebook, Catatan dari 2007 Hingga 2018

by Wita Saida , at Januari 01, 2018
Saat kuliah, saya tidak begitu suka menggunakan facebook ini. Selain karena fokus pada perkuliahan, saya berpandangan bahwa facebook ini basi, yang hanya mengajarkan orang untuk berbasa-basi.

Demikian cara pandang saya ketika itu. Meskipun ada juga yang blak-blakan tapi saya melihat blak-blakan seperti itu kontraproduktif.

Bahasa kasar nan menohok banyak tersebar. Pantas lah dikatakan bila media ini sebagai penghancur akhlaq. Tutur kata dan bahasa yang digunakan seperti tidak ada batasnya.

Rahasi pribadi yang diumbar menjadi hal yang sangat tidak saya sukai saat itu. Pikiran saya menjadi penuh tanya, mengapa masalah dengan suami atau istri dijadikan bahan tulisan dan diketahui orang banyak.

Baca juga:
Trans Gender Jadi Trans Gender Jadi Tentara, Apa Kata Dunia?

Aku dan Facebook, Catatan dari 2007 Hingga 2018
Saya yakin ini benar. Kalau orang-orang yang menjadi temannya di facebook akan dapat melihat apapun yang ditulisnya. Betapa buruk orang yang merendahkan orang lain di hadapan khalayak.

Saya menyebut facebook ini sebagai khalayak banyak. Mengapa? Meskipun bergaul di dunia maya yang tidak begitu jelas namun tetap ia tidak bicara sendiri.

Media sosial bahkan dibangun sebagai penghubung. Di sinilah interaksi akan diwadahi dan disalurkan kepada yang menginginkannya.

Bayangkan kalau ada orang marah-marah di pasar, apa yang akan anda komentari. Meskipun anda sedang marah maka tidak perlu marah-marah di tengah keramaian.

Lantas, apa yang anda lihat. Saya dan anda kini melihat kemarahan yang penuh benci dan dendam berseliweran dalam media ini. Ada yang benuknya kata-kata dan tulisan, suara, gambar, dan vidio.

Menjelang tahun 2010 saya semakin sering menggunakan media ini. Meskipun pandangan saya tentang media ini tidak banyak berubah. Namun saya berpikir bahwa tidak boleh melewatkan kebaikan sekecil apapun.

Saya bisa berbagi semangat dan pelajaran dengan orang-orang di facebook ini. Memang saya membaca kebanyakan tulisan yang ada adalah lebay dan galau.

Saya tidak mau begitu. Rupanya banyak yang lebih dulu dari saya dan saya adalah orang yang sangat terlambat. Ternyata dalam lumpur bisa ditemukan banyak mutiara.

Kini, saya memiliki pandangan lain terkait dengan bisnis online dan artice yang saya geluti selama ini. Dan kini saya berpandangan lain terhadapnya.

Pertama saya bisa menghasilkan uang dari facebook dengan cara membuat artikel yang dishare ke halaman milik saya.

Lagi-lagi saya tidak puas. maklum asalnya dari belahan dunia liberal yang kapitalis ternyata media ini menerapkannya.

Siapa yang membayar besar maka dia akan untung besar. Kalau tidak punya biaya maka yang harus anda lakukan adalah berusaha lebih keras untuk menghasilkan cara-cara cerdas yang diaplikasikan.

Yang saya tidak setuju adalah seringkali media ini blunder. Terutama pada masalah-masalah yang sensitif baik yang berhubungan dengan moral, agama, tatakrama, nampaknya media ini sangat longgar.

Akhirnya, saya berharap semua orang bijak dalam menggunakannya. Selain itu pihak facebook pun seharusnya bisa menaati peraturan yang ada di Indonesia.
Aku dan Facebook, Catatan dari 2007 Hingga 2018
Aku dan Facebook, Catatan dari 2007 Hingga 2018 - written by Wita Saida , published at Januari 01, 2018, categorized as Berita
Comment disabled
Copyright ©2013 Sarip Hidayat by
Theme designed by Damzaky - Published by BLOG MR.W
Powered by Blogger