Kenapa Jumlah Pengusaha di Indonesia Kalah dengan Malaysia?

Kenapa Jumlah Pengusaha di Indonesia Kalah dengan Malaysia? Adakah jawaban yang memuaskan atas pertanyaan tersebut? Apa syarat-syarat yang harus dipenuhi agar adanya peningkatan secara kwantitas dalam hal ini?

Baca juga: Spirit Bisnis Asnawi, Pengusaha Es Krim yang Tidak Lulus SD

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas telah banyak disampaikan para pakar. Jawaban-jawabannya pun sangat memuaskan. Tidak terkecuali para ulama yang menerangkan akan hal ini. Misalnya saja Yusuf Mansur, Aa Gym, Muhammad Ridlo Zarkasyi, dan banyak lagi yang lainnya.

Warisan Penjajah

Tema ini telah disinggung secara sekilas oleh Muhammad Ridlo Zarkasyi dalam bukunya Virus Entrepreneurship KYAI. Dalam tulisannya beliau banyak mengungkap soal kewirausahaan pesantren di bawah asuhan kyai dan bagaiamana seharus pesantren bisa mandiri.

Beliau menyatakan sebagai berikut:
"Di Indonesia ini, tanpa menyalahkan proses penjajahan Belanda, telah membudaya perilaku yang menjunjung tinggi para pegawai dan perilaku ndoro. Konon, katanya itu adalah bagian dari biudaya adiluhung yang memandang usaha atau bisnis sebagai kegiatan yang kotor dan tidak pantas dilakukan oleh orang-orang terhormat."
Cara pandang seperti ini tentu saja pengaruhnya sangat besar apalagi bila hal ini termasuk budaya yang mengakar. Meskipun bila dilihat dari budaya bisa dinyatakan keliru namun karena telah ada dalam masyarakat secara kuat pada akhirnya orang-orang akan memandang salah bagi yang menyalahi konsep budaya ini.

Pendidikan yang Tidak Tuntas

Kaitan agama dengan bisnis sangat erat. Pandangan agama adalah positif terhadap semua alat atau media yang bisa mencapai pada peradaban yang luhur. Begitu pula sebaliknya agama akan menaruh perhatian yang besar pada penyimpangan penggunaan alat atau media.

Adanya pemisahan antara aktivitas yang dipandang duniawi-ukhrawi turut menjadi bagian yang juga memiliki saham yang besar akan kurangnya minat banyak orang untuk menggeluti dunia usaha. Cara pandang keagamaan yang salah kaprah seperti ini meemang perlu adanya penjelasan lanjutan dan pendidikan yang mnyeluruh.

Bila ini diajarkan dalam dunia pendidikan maka pengaruhnya akan besar. Karena tidak adanya niat orang untuk menjadi pengusaha sering kali karena tidak ada pelajaran dari lembaga pendidikan tempatnya belajar akan hal tersebut.

Pendidikan Entrepreneurship di Keluarga

Sebelum masyarakat memiliki semangat berusaha dan mendirikan perusahaan tentu saja di keluarga pun mesti diajarkan. Nantinya iklim ini akan menyebar kepada keluarga lainnya. Dengan adanya pendidikan di keluarga maka anak-anak akan lebih kuat lagi dalam memahami dan mempraktikkan budaya usaha yang baik.

Tentu tiga hal ini belum menyentuh apa-apa. Kalangan cendikiawan dan usahawan mesti terus mendidik para kader yang akan memajukan dunia usaha di Indonesia.

Selanjutnya bila dibandingkan dengan Malaysia ternyata jumlah pengusaha di Indonesia kalah dari segi jumlah. Mengapa ini bisa terjadi? Padahal kedua-duanya sama-sama pernah menjadi negara jajahan negara lain.

Apa yang mesti dirubah dari budaya Indonesia ini? Sesungguhnya nilai-nilai luhur yang ada dalam budaya Indonesia sudah sangat lengkap. Yang mesti ditingkatkan adalah peningkatan kwalitas karakter bangsa yang lebih tangguh, berdaya saing kuat, memiliki pengetahuan yang luas dan pergaulan bertaraf internasional.

Maka kejayaan ekonomi dan dunia usaha tidak bisa dilepaskan dari upaya peningkatan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan kemanusiaan dan penguasaan teknologi mutakhir yang akan membuat semuanya lebih mudah dalam ritme yang cepat.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.