Pengaruh Iman dan Amal terhadap Kesuksesan Berdakwah

Jumadi tertegun mendengar berita buruk yang didapatkannya. Salah seorang kerabatnya diberitakan melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Mendengar berita itu pikirannya menjadi tidak karuan.

Hatinya diliputi rasa malu bercampur marah. Sebagai seorang kyai yang terpandang di kampungnya ia merasa sangat malu. Bukankah seharusnya ia bisa mendidik kerabatnya itu. Ia marah karena sudah berulang kali mengingatkannya.

Kini kejadian memalukan itu terulang kembali. Kini ia dihadapkan pada pilihan untuk diam dan membiarkan hatinya kecewa, marah, tapi tidak berdaya. Pilihan lainnya masih ada meskipun sulit. Yaitu berupaya merubahnya.

Jumadi hanya berucap istighfar saja. Ia terus menerus memohon ampun. Sadar akan kekurangan dan kecilnya upaya untuk membawa kerabatnya itu ke jalur yang benar. Ia menginsapi bahwa mungkin saja kerabatnya berbuat seperti itu karena dirinya yang tidak memperingatkannya.

Jumadi teringat kesuksesan Rasulullah saw.. Mengapa beliau sukses dakwahnya hingga bisa merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang bertauhid, santun, maju, bersatu, dan menjunjung tinggi ilmu?

Diyakini sepenuh hati oleh Jumadi, bahwa semua itu karena Rasulullah saw telah memberikan teladan. Beliau adalah orang yang pertama mengerjakan apa yang diperintahkannya. Jadi sebelum orang lain mengerjakan, Rasulullah saw. dulu telah mengerjakannya dengan benar dan sempurna hingga bisa menjadi tolok ukur dan contoh.

Dalam sejarah kegemilangan dakwah para ulama dan pemimpin pun sama. Dulu di sebuah kota para hamba sahaya memohon kepada seorang khathib untuk menyampaikan ceramah tentang keutamaan memuliakan hamba sahaya dan bagaimana Islam mengajarkan etika bergaul dengan mereka, dan seperti apa ajaran Islam mendukung gerakan pembebasan hamba sahaya.

Mendengar keluhan mereka sang Khathib mengiyakan saja. Saat kesempatan menyampaikan khuthbah ada dan khathib menyampaikan khuthbahnya ternyata tidak ada satu kata pun yang mengulas tentang tema yang diminta.

Para hamba sahaya pun kecewa. Dan kejadian ini terjadi berulang kali.

Hingga suatu hari sang khathib naik mimbar dan ia memulai pidatonya. Hadirin telah siap mendengarkan ceramahnya. Dan ia dengan tegas penuh dalil berpidato tentang keutamaan memuliakan hamba sahaya.

Banyak yang menangis mendengar ceramahnya saat itu. Dan sehabis khuthbah itu, para tuan hamba sahaya serta merta membebaskan budak-budaknya. Saat itu ribuan hamba sahaya bebas. Sungguh pemandangan yang indah dan mengharukan.

Sang khathib ditanya, mengapa baru hari ini anda menyampaikan khuthbah tersebut?

Ia hanya menjawab, Karena baru tadi saya bisa memerdekakan hamba sahaya.

Sampai di sini kita bisa mengambil pelajaran. Bahwa untuk merebut hati umat adalah dengan memberikan keteladanan. Mereka membutuhkan sandang, pangan, dan papan. Tapi mereka lebih butuh lagi orang yang bisa mereka ikuti.

Kisah para pemimpin pun kurang lebih sama. Mengapa Umar ibn Abd Al-'Aziz sukses menjadikan masyarakat muslim kaya hingga tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat?

Jawabannya sama dengan uraian di atas. Beliau penggenggam perbendaharaan dari timur dan barat tapi hatinya tetap zuhud. Hingga kisahnya meminta sang istri memberikan perhiasannya ke bait al-mal tersiar sangat masyhur.

Shalahuddin Al-Ayubi? Siapa yang tidak mengenalnya?! Mengapa ia sukses? Karena ia adalah orang yang mengamalkan ajaran agamanya sebelum bala tentaranya. Ia adalah orang yang tidak pernah ketinggalan shalat malam sama sekali.

Maka Jumadi memgambil hikmah dari itu semua. Karena keteladanan adalah senjata yang meruntuhkan benteng terkuat yang terbuat dari besi, baja, dan apapun. Siapa yang memilikinya, maka ia yang akan sukses dalam hidupnya dalam rangka membawa orang lain menyisuri jalan yang diridoi Tuhannya.



















logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.