Munggahan

Apa itu munggahan? Dari bahasa apakah munggahan ini? Adakah arti penting dari kata mungghan? Munggahan ini sejenis makanan atau kue-kuean, atau sejenis kutu air?
Tentu saja bukan semua itu. Kenapa “tentu saja”? Karena memang begitu keadaannya. Memangnya kenapa? Sudah jangan bertanya terus nanti kamu pusing sendiri.

Munggahan ini “kalau tida salah” berarti naik lalu ditambah awalan ke an akhiran an menjadi kebnaikan. Lalu maksudnya aa, eh maaf apa maksudnya? Nanti saya jelaskan. Jangan nanti, sekarang saja, kan bisa? Kamu ini tidak sabar sekali rupanya, ada apa gerangan? Ditanya malah balik nanya.

Munggahan
Mnngah Singa Depok
Kenaikan ini banyak sekali ragamnya. “mulai Serius …. “. Dalam tradisi agama-agama di masa lalu selalu ada dua ajaran. Pertama ada yang istilahnya turun dari kayangan. Ini biasanya dinisbatkan kepada sesuatu yang sacral yang dihormati.

Para raja dan orang-orang suci sering mendapatkan gelar dewa bahkan tuhan dan diembel-embeli dengan tuhan atau anaknya yang turun dari kayangan untuk menjadi juru selamat bagi manusia sekabehe (seluruhnya).

Maka konsep rahmatan lil ‘alamin ini dimiliki juga oleh tradisi dan agama lainnya. Namun tentu saja konsep ini secara jelas diaktualkan dan diformulasikan secara jelas oleh Islam sejak dari Nabi Adam dan yang paling jelas oleh Nabi Muhhamad.

Anda lanjutkan dulu yang tadi! Yang tadi yang mana? Itu yang dua ajaran itu tadi. ‘Kan baru satu. Oh ya kita lanjutkan dulu.

Yang turun dari kayangan ini membawa berbagai ajaran yang kemudian diformulasikan dan diyakini para pengikutnya. Misalnya saja ia menyebut sebagai anak tuhan atau anak dewa matahari atau yang lainnya.

Nanti.
Nanti bung, yang tadi turun dari kayangan akan kembali lagi ke kayangan. Namun tidak dianggap mati bahkan selalu memantai apapun yang terjadi di dunia. Ia yang selama ini akan dimintai petunjuk dan perlindungan.

Kita pertajam soal kembali ke kayangan atau secara jelas agar nyambung dengan judul disebut kenaikan. Kata inilah, maksudnya kenaikan, yang dialih bahasakan dengan munggahan.

Dalam tradisi bahkan agama di masyarakat orag banyak sekali menggunakan kata kenaikan atau munggahan. Kita biasa menyaksikan anak sekolah diadakan prosesi kenaikan kelas setelah menempuh ujian.

Dalam tradisi umat Islam ada yang disebut naik haji. Ini berarti melaksanakan haji. Kenapa disebut naik haji? Dan istilah ini ada sebelum ada pewat terbang. Jadi istilahnya kenapa naik haji? Apa jawabannya?

Salah satu jawaban adalah karena berhaji artinya naik ke pengamalan agama yang ke lima setelah melaksanakan rukun Islam yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Jadi kalau demikian melaksanakan ibadah haji berate naik haji karena alaman seorang muslim akan meningkat kwalitas dan kwantitasnya.

Bagaimana dengan peristiwa Isra dan Mi’raj? Nah dalam peristiwa ini ada juga munggahan atau kenaikan yang disebut Mi’raj. Rasulullah saw dinaikkan, awas bukan naik sendiri, ia dinaikkan ke langit tinggi hingga berada di haribaan Allah yang Maha Suci.

Lalu apa kaitannya dengan Shalat? Sebenarnya kata munggahan atau naik bisa juga diterapkan pada shalat karena shalat adalah mi’rajnya kaum muslimin. Anda yang muslim tidak dinaikkan Allah untuk menerima tugas shalat karena Mi’raj yang itu khusus untuk Nabi Muhammad.

Lantas apa yang bisa anda lakukan agar bisa munggah atau naik? Lakukan saja shalat dengan khusyu. Khusyu ini diartikan sebagai shalat yang memenuhi syarat, rukun, dan sunnahnya dan memfokuskan pikiran hanya kepada Allah.

Ada yang terlewat sedikit. Dalam peristiwa Isra dan Mi’raj kita mendengar bahwa para nabi pun ada yang ditepatkan di langit. Misalnya Nabi Musa dan Nabi Isa. Bahkan Nabi Isa ini nanti akan turun lagi dari langit untuk mengumumkan agama Islam yang benar dan menyatakan bahwa ia seorang muslim.

Sekarang ceritakan tentang puasa! Baiklah …

Munggahan dikaitkan dengan ibadah puasa berarti pelaksanaan puasa. Mengapa ia ditempeli kata munggahan? Karena pelaksanaan ibadah apapun pada hakikatnya mengangkat jiwa pelakunya kepada kwalitas yang lebih tinggi. Dan setiap ibadah mengangkat derajat orang yang melakukannya. Jadi munggahan ini adalah kata yang tepat untuk semua ibadah termasuk puasa.

Ada filosofi yang bagus dalam kata ini dan pandangan yang manis untuk mengambil hikmah. Maka kalau sudah naik dalam melaksanakan ibadah diharapkan jangan turun lagi baik pelan-pelan atau terjatuh sekaligus.

Di beberapa tempat di tanah air Indonesia ada juga tradisi Papajar. Secara bahasa Kirata, ini bukan bahasa Jepang, tapi Bahasa Sunda yang bermakna dikira-kira supaya menjadi nyata, maknanaya adalah mapag pajar atau menyambut fajar, maksudnya fajar Ramadhan. Ini mengandung makna bahwa Hilal atau Bulan yang menandai datangnya Ramadhan sangat dinanti dan dicari. Demikian seperti yang ditulis Aldi Taufik dalam artikelnya. Silahkan baca di sini.

Demikian ulasan singkat mengenai munggahan ini. Semoga ada kata-kata atau kalimat yang bermanfaat. Selebihnya kami mohon maaf bila ada yang salah atau kurang lengkap. Ada hal-hal yang terlewat sudah pasti. Kami berbesar hati bila ada yang ingin menyempurnakannya.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.