Kiamat di Cianjur

Lirik lagu Semalam di Cianjur masih terngiang dalam benak Suhadi. Seorang pemuda yang hampir binasa karena dirinya sendiri. Begitu sering ia menyanyikan lagu itu hingga kejadian pahit menimpa durinya.

Akhir Desember beberapa tahun silam ia berkunjung. Indah rasanya merangkai harapan dengan seseorang yang kelak ingin dipersuntingnya. Ia sudah merencanakan akan ini dan itu. Sebuah rencana yang banyak bahkan sering tidak masuk akal.

Malam Tahun Baru yang seharusnya gemerlap mendadak seperti kiamat. Kilatan cahaya petasan seperti bintang-bintang yang bertabrakan. Gelegar bunyi drum seolah langit runtuh. Sementara suara terompet serasa bunyi sangkakala Israfil pertanda kiamat.

Apa penyebabnya? Suhadi mendapati jawaban tidak dari yang duharapkannya. Ia terluka mesi berupaya menyembuhkannya. Ia tersakiti meskipun berupaya nengobati. Ia jatuh dalam kesedihan yang parah.

Hari-hari dilaluinya dengan kehampaan. Kalaulah bukan karena kasih Tuhan tentu saja ia akan binasa. Mungkin saja orang-orang akan menemukannya di tiang gantungan atau menjadi penjahat bengis tanpa belas kasihan.

Rupanya Suhadi berupaya menangis hanya dalam hatinya. Meskipun air mata tidak sanggup dibendung semuanya. Sudah tudak terhitung doa-doa ia panjatkan. Suhadi memang tidak punya yang meyakinkan.

Ingin sekali Suhadi tidak menginjakkan kakinya lagi di tempat yang membuatnya ingat masa lalunya yang berantakan. Namun Tuhan menggariskan lain. Berulang kali ia mesti ada dan melewatinya. Sebagai orang waras Suhadi tidak mungkin pura-pura hilang ingatan.

Apa kabarnya Suhadi saat ini. Sampaikanlah samal kedamaian kepadanya. Bila Suhadi itu anda maka saya ingin menjabat tangan anda untuk semangat hidup yang anda upayakan. Untuk Suhadi lainnya mohon bersabar karena setoap kesabarannya besar pahalanya.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.