Para Penyeru Sekulerisme Yang Buta

Kadang-kadang manusia yang disebut makhluk berakal berbuat seolah-olah ia tidak berakal. Yang lain beda lagi, ia telah menapaki jalan berliku untuk menempuh suatu tujuan mulia namun bila direnungkan ia hanya menjauh darinya.

Termasuk saya, sampai hari ini saya masih merasa sebagai manusia. Namun dalam menit-menit berlalu saya beripikir kelakuan saya lebih buruk dari kera paling bodoh sekalipun. Suatu kali runduk dan khusyu mengagumi pencipta dan di saat yang lain menggugat kekuasaannya.

Di belahan bumi sebelah sana terlihat ada kafilah yang menyeru orang-orang untuk masuk mesjid. Mereka adalah orang yang mengaku sebagai pengikut sunnah Nabi. Penapilan dan gayanya diupayakan sesuai sunnah Nabi yang mulia itu.

Namun dalam hati ada ganjalan sedikit. Dengar-dengar, dan ini belum pasti, mereka masih memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Maksud saya di masjid tidak boleh bicara politik, ilmu pengetahuan umum, bisnis dan pekerjaan. Bahkan orang bekerja pun disinyalir mendapatkan penilaian yang kurang baik sebagai orang yang mencintai dunia.

Keheranan ini masih dalam derajat rendah dibandingkan dengan keherananan saya terhadap diri saya sendiri. Karena ada ketimpangan antara yang pernah saya dengar dan yang terjadi di depan mata kepala saya hari-hari terakhir ini.

Saya heran, bukankah kehidupan dunia ini harus diatur oleh agama. Lantas kenapa tidak boleh bicara politik, ilmu pengetahuan, ilmu bisnis, dan seterusnya. Padahal menurut yang saya baca amalan agama itu bukan hanya dziir dan i'tikaf namun hingga membangun sebuah negara.

Kalau memisahkan kehidupan agama hanya di mesjid sementara medan-medan yang lainnya masih belum terjamah, maka tidakkah ini bagian atau setidaknya salah satu bentuk sekularisme. Mungkin tidak disadari sampai di sini karena anggapannya adalah agama hanya soal dzikir dan i'tikaf.

Keherananan saya pun semakin memuncak saat mendengar bahwa pembahasan hanya soal adab makan, minum, ke WC, tidur, silaturahi, bertamu. Lantas apakah ilmu-ilmu Islam itu hanya itu saja hingga terus diulang. Tidakkah sebaiknya seseorang mempelajari ilmu itu terus meningkat hingga ke sejumlah persoalan-persoalan yang sulit.

Saya heran, karena yang pernah mendengar bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Lantas bila hanya itu-itu saja yang dibahas lalu bagaimana degan yang lainnya. Selanjutnya bila demikian prtanyaan berikutnya adalah apakah sunnah Rasul it hanya sampai di situ dan setelahnya bisa menggelari diri sebagai pengikut Islam seutuhnya dan pecinta sunnah Rasul seluruhnya?

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.