Dzikir Pendek dan Sinetron Panjang, Mana yang Paling Disukai

Seseorang yang punya cinta kepada seseorang maka ia akan sering bercerita tentangnya. Bila ia suka dzikir maka ia akan berdzikir dan menyebut-nyebut keutamaannya. Bila ia suka sinetron maka iapun akan menceritakan apa yang ditontonnya.

مَنْ أَحَبَّ شّيْئاً فَأَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ

Atau

مَنْ أَحَبَّ شّيْئاً فَأَكْثَرَ ذِكْرَهُ

Saya punya cerita yang barangkali bagus bila saya bagikan. Saya ingin menuliskannya untuk Anda. Mohon sabar sebentar.

Simak juga Dzikir Pendek dan Sinetron Panjang, Mana yang Paling Disukai

Shubuh tadi saya ikut shalat berjamaah di masjid. Mendadak dalam hati terbersit ingin berdzikir setelah shalat dengan dzikir yang panjang seperti yang biasa dahulu dilakukan oleh para orang tua.

Seusai Shalat saya ikut juga berdzikir bersama jamaah yang lain. Sampai di bacaan Ayat Kursiy ternyata Imam melanjutkan membaca ayat terakhir surat Al-Baqarah. Dalam hati saya berkata, "Kenapa bisa pas bgini, saya lagi ingin berdzikir panjang, dan Imam berdzikir dengan bacaan yang ful." Begitu saya bilang dalam hati.

Mengapa saya merasa senang dan terharu. Perlu pula anda tahu bahawa sudah agak lama para Imam mempersingkat bacaan dzikir hingga Ayat Kursi lalu langsung ke bacaan tasbih. Ini sangat singkat karena setelah ayat kursi, dulu, dilanjutkan ke ayat terakhir Surat Al-Baqarah, dua ayat Ali-Imran, ujung Surat At-Taubah.

Baru Shubuh tadi saya mendengarkan bacaan dzikir versi lengkap. Saya memang cukup khawatir dengan fenomena ini. Saat orang-orang menganggap ibadah, shalat, dzikir, haji, dan sebagainya sebagai amalan yang hanya menghabis-habiskan uang dan waktu. Padahal bila disimak lebih dalam sikap ini tidak lagi sesuai. Seharusnya berdzikir harus lebih lama dari pada menonton sinetron.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.