Berburu Untung Sebesar Teri Meninggalkan Kakap

Saya heran dengan diri saya sendiri. Saat salah dalam memilih di antara banyak kebaikan yang ada. Di antara semua itu ada yang penting, lebih penting, dan yang paling penting. Hitung-hitungan saya "sepertinya" saya banyak memilih yang tidak penting.

Tadi pagi saya bangun cukup pagi sebelum Shubuh. Saya tahu amalan membantu orang lebih besar dari puluhan kali shalat sunnah. Bila paham dengan ilmu ini maka seharusnya setelah shalat sunnah beberapa rakaat saya kembali bangkit untuk mengerjakan sesuatu yang bermaslahat bagi umat.

Agenda sebelum Shubuh yang bisa bermanfaat bagi banyak orang antara lain menuliskan artikel motivasi, membersihkan masjid agar siap pakai saat shalat jamaah, memenuhi bak air agar para mutawadhi mudah saat berwudhu, membetulkan suara sound system agar suara imam nanti enak didengarkan.

Yang tidak kalah penting adalah memberikan pencerahan dengan mengajarkan ilmu. Termasuk dalam hal ini adalah membangunkan orang dengan melantunkan bacaan tarhim sebelum tidur. Bayak lagi yang lain tentunya.

Tentang hal ini saya punya cerita dan cerita ini masih terkenang hingga kini meskipun sudah puluhan tahun yang lalu saya mendengarnya dari guru kami Bapak Ustadz Dadin Wajihadin di Cianjur yang menggunakan tempat pengajian di Pesantren Najaten.

Diceritakan ada seorang yang kaya raya, bergelar haji, tapi terkenal sangat pelit. Ia tidak pernah diceritakan memberikan sesuatu pun kepada tetangganya. Jangankan begitu, bahkan uang kembalian yang hanya Rp 50 pua ia akan menagihnya. Orang-orang bila dia sagat keterlaluan dan terlalu cinta dunia, padahal ia haji.

Sementara itu, masyarakat terkesan dengan orang yang dermawan tapi masih misterius. Selama ini selalu saja ada orang yang membagikan makanan, pakaian, dan uang setiap Shubuh Jumat yang disimpannya di depan setiap rumah warga. Pernah ada orang yang penasaran dengan orang ini. aNamun bertahun-tahun identitas orang ini tidak terungkap. Oang-orang sangat ingin tahu siapa dia yang kedermawanannya kontras dengan kebakhilan Pak Haji tadi.

Hingga tibalah ketetapan tuhan menimpa Pak Haji pelit tadi. Ia meninggal dunia dalam keadaan kaya raya, banyak harta, dan tetap terhormat. Berduyun-duyun orang datang untuk melayat. Meskipun di hati mereka ada ganjalan dengan kepelitannya tetap saja mereka datang ke rumah duka.

Sudah satu tahun sejak Haji pelit itu meninggal. Dan satu tahun pula orang dermawan yang misterius itu tidak kunjung muncul juga. Maka sejak itu, tahulah orang-orang kampung itu bahwa orang dermawan itu adalah Pak Haji yang sudah dicap oleh mereka sebagai Haji pelit tadi.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.