Kecerdasan dalam Menasihati tanpa Menghina

Apakah kita ini bodoh atau pintar. Tentu, mungkin saja dalam satu biang kita pintar dan di bidang yang lain kita bodoh, sama sekali tidak tahu, dan baru mendengar juga ada yang begitu. Kita sadar bahwa tidak semua kita ketahui bahkan yang ada dalam diri kita pun tidak kita ketahui semuanya atau seperempatnya.

Kita ini bodoh. Namun bagaiman bila ada orang yang menunjuk tepat di hidung kita dan ia mengatakan, "dasar bodoh ... " Apakah kita akan menerimanya begitu saja. Saya yakin meskipun dia guru kita dan tahu kemampuan kita tetap kita tidak akan menerimanya. Dan dalam hati timbul tekad untuk membuktikan bahwa kita tidak seperti yang dikatakannya.

Begitulah orang. Semuanya tidak ada yang mau direndahkan dan dihina tau diremehkan. Setiap orang senang dengan penghormatan, penerimaan, dan diangkat derajatnya. Itu sudah umum. Dan satu lagi orang tidak mau disalahkan meskipun salah.

Kita menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri banyak orang yang terbukti bersalah tetap tidak mau mengaku dan ia membela dirinya mati-matian. Ia menyewa pengacara untuk membelanya di depan persidangan.

Orang akan marah kalau kesalahan dan kekurangannya dikorek-korek dan diusut. Maka denagn demikian alangkah baiknya mengilmui keerampilan enasehati tanpa menimbulkan bahaya yang lebih besar.

Orang-orang mulia sangat berhati-hati saat menasehati. Putera imam Ali bin Abi tahli, Hasan dan Husain melihat orang berwudhu tapi keliru. Mereka berdiskusi bagaimana cara terbaik untuk mengajarkan wudhu yang sempurna kepada orang itu.

Akhrnya mereka meneemukan ide. Ide yang brilian. Mereka berdua pura-pura berbeda pendapat tentang tata cara wudhu yang sempurna. Dan salah seorang dari mereka mepraktikannya. rang tadi akhirnya bisa berwudhu karena diajarkan wudhu lewat mereka yang mengajarkan tapi tidak seperti menggurui.

Cerita lain, di suatu majlis ada seorang syaikh yang sedang mengajar. Ia menyuruh salah seorang hadirin untuk membacakan teks dalam kitab yang dikaji. Ternyata orang itu tidak benar membacanya. Sudah tiga kali dia diminta membaca dan selalu salah.

Akhirnya syaikh meminta orang yang disebelahnya membaca. Ternyata bagus. Dan orang pertama merasa tidak enak. Namun hebatnya syaikh meminta orang seterusnya satu per satu untuk membacanya agar orang pertama tidak tersinggung seolah-olah semua kebagian membaca.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.