Yang Dilakukan Orang Ini Tidak Lazim di Masa Kini, Tapi ini yang Tepat

Diceritakan ada seseorang yang dalam kondisi butuh uang. Ia kepepet oleh kebutuhannya. Ia sangat memerlukan dana segar dan harus ada secepatnya. Lalu ia bermaksud menjual kudanya kepada seorang yang ia kira akan membelinya.

"Saya bermaksud menjual kuda ini kepada anda."
Ditanya, "Akan dijual berapa kuda ini."
Ia menjawab, "Terserah anda maunya berapa."
Ditanya lagi, "Berapa harga yang anda tetapkan untuk kuda ini."
Ia menjawab, "Saya menawarkannya seharga 200 dirham."
Ia ditanya, "Bagaimana kalau 400 dirham?"
Ia menjawab, "Saya menawarkannya 200 dirham tapi kalau anda berani 400 ddirham silahkan."
Ia ditanya, "Bagaimana kalau 600 dirham?"
Ia menjawab, "Saya menawarkannya 200 dirham tapi kalau anda berani 600 ddirham silahkan."
Ia ditanya, "Bagaimana kalau 800 dirham?"
Ia menjawab, "Saya menawarkannya 200 dirham tapi kalau anda berani 800 ddirham silahkan."

Anda tahu bukan endingnya. Kuda tersebut dibeli dengan harga 800 dirham. Melihat tuannya melakukan tindakan tidak populer pembantu orang yang membeli kuda tersebut bertanya keheranan kepada tuannya itu dan ia seperti melihat hal yang aneh terjadi pada tuannya.

Ia bertanya, " Ada apa dengan anda, dia menawarkan kudanya seharga 200 dirham, dan anda membelinya dengan 400, 600, hingga 800 dirham.?
Diijawab, "Memang kenapa?"
Ia menjawab, "Saya merasa aneh ... "
Dijawab, "Saya diperintahkan untuk menjadi penasihat bagi kaum muslimin. Saya menasihatinya untuk menjual kudanya dengan harga 800 dirham karena memang harga kuda tersebut di pasaran."

Itulah sebuah kisah yang mungkin jarang bahkan tidak terjadi di era modern yang tidak melaksanakan sistem ekonomi Islam. Perekonoman kita telah diracuni dengan sistem liberal yang kejam dan tidak didasari dengan akhlaq agama.


Yang Dilakukan Orang Ini Tidak Lazim di Masa Kini, Tapi ini yang Tepat

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

  1. Jual Beli Yang Langka di Dunia

    عَنْ قَيْسٍ عَنْ
    جَرِيرٍ قَالَ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى
    إِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.

    Dari
    Qois, dari Jarir, beliau mengatakan, “Aku berbaiat kepada Nabi untuk
    menegakkan shalat, membayar zakat dan menghendaki kebaikan untuk setiap
    muslim” [HR Muslim no 208].

    Ada contoh praktek luar biasa yang diberikan oleh shahabat Nabi, Jarir untuk menerapkan pesan Nabi di atas.

    رَوَاهَا
    الْحَافِظ أَبُو الْقَاسِم الطَّبَرَانِيُّ بِإِسْنَادِهِ .
    اِخْتِصَارُهَا : أَنَّ جَرِيرًا أَمَرَ مَوْلَاهُ أَنْ يَشْتَرِيَ لَهُ
    فَرَسًا فَاشْتَرَى لَهُ فَرَسًا بِثَلَثِمِائَةِ دِرْهَم ، وَجَاءَ بِهِ
    وَبِصَاحِبِهِ لِيَنْقُدَهُ الثَّمَنَ ، فَقَالَ جَرِير لِصَاحِبِ الْفَرَس
    : فَرَسُك خَيْرٌ مِنْ ثَلَثمِائَةِ دِرْهَم . أَتَبِيعُهُ
    بِأَرْبَعِمِائَةِ دِرْهَم ؟ قَالَ ذَلِكَ إِلَيْك يَا أَبَا عَبْد اللَّه .
    فَقَالَ : فَرَسُك خَيْر مِنْ ذَلِكَ . أَتَبِيعُهُ بِخَمْسِمِائَةِ
    دِرْهَم ؟ ثُمَّ لَمْ يَزُلْ يَزِيدُهُ مِائَة ، فَمِائَة ، وَصَاحِبه
    يَرْضَى ، وَجَرِيرٌ يَقُول : فَرَسَك خَيْر إِلَى أَنْ بَلَغَ
    ثَمَانمِائَةِ دِرْهَم . فَاشْتَرَاهُ بِهَا . فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ ،
    فَقَالَ : إِنِّي بَايَعْت رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    عَلَى النُّصْح لِكُلِّ مُسْلِم . وَاَللَّه أَعْلَم .

    Diriwayatkan
    oleh al Hafizh Abul Qasim ath Thabrani, singkat ceritanya, Jarir
    memerintahkan budaknya untuk membeli seekor kuda untuk Jarir. Akhirnya
    si budak membelikan untuk Jarir seekor kuda dengan harga 300 dirham. Si
    budak lantas membawa kuda tersebut bersama pemiliknya untuk menerima
    penyerahan uang dari Jarir. Setelah melihat kuda tersebut, Jarir berkata
    kepada pemiliknya, “300 dirham itu terlalu murah untuk kudamu. Bolehkah
    kubeli dengan harga 400 dirham saja?”. “Terserah anda wahai Abu
    Abdillah”, jawab sang pemilik kuda.

    Setelah dipikirkan lebih
    lanjut, Jarir berubah pikiran lantas berkata kepada pemilik kudan, “400
    itu ternyata terlalu murah. Bolehkah kubeli dengan harga 500 dirham?”.
    Pemilik kuda pun setuju setuju saja.

    Setiap kali dipikirkan lebih
    lanjut, Jarir memberi tambahan seratus dirham demi seratus dirham. Tentu
    pemilik kuda senang-senang saja. Jarir selalu mengatakan bahwa harga
    yang disepakati sebelumnya itu ternyata terlalu murah. Sampai pada
    akhirnya Jarir membeli kuda tersebut seharga 800 dirham.

    Melihat
    transaksi jual beli yang unik ini, ada yang bertanya kepada beliau
    mengapa beliau melakukan hal tersebut. Jawaban beliau, “Aku pernah
    berjanji kepada Nabi untuk menghendaki kebaikan bagi setiap muslim”
    [Syarh Nawawi untuk Shahih Muslim 1/145]



    Read more http://pengusahamuslim.com/3547-jual-beli-yang-langka-di-1808.html

    BalasHapus

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.