DR. KH. R. Edi Komarudin, M.Ag: Kedermawanan dan Keramahan yang Kusaksikan

Sejak awal bertemu saya sudah merasa terpesona. Kami adalah 5 orang pemuda di kala itu yang datang dari kampung nan jauh di ujung Kabupaten Cianjur. Bersama seorang guru yang kami cintai kami awal mula dipertemukan. Sejak saat itu di hatiku berkata aku akan mulazamah dengannya.

Banyak sifat yang aku kagumi. Aku percaya dan selalu aku pegang bahwa berguru artinya berupaya menyerap akhlaq gurunya. Saya melihat dari sejak awal beliau begitu ramah, wajah tampannya selalu berhias senyumana, ia pandai membuat kami nyaman dan berakrab-akrab dengan candaan.
Saat pertama berjumpa beliau yang menyapa kami. Berbincang-bincang dengan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan kecil yang terkadang seperti sebuah kick dan kami menjawabnya dengan tertawa pula karena ada hal yang sederhana dan lucu dalam pertanyaan dan ungkapan-ungkapannya.

Pertama kali datang ia langsung memberikan makanan enak yang masih hangat. Ia suguhkan makanan terbaik dan rupanya sengaja dimasak untuk kami. Kebaikan itu ternyata terus beliau lakukan bersinambung dan bukan hanya kami yang merasakannya.

Anda tahu bagaimana beliau bersedekah. Maka ia akan bertanya, "Siapa yang tahu warungnya Pak Utan?" Warung itu tidak jauh, hanya selangkah dari masjid. Siapa yang mendengar pertanyaannya pasti langsung harus bangkit dan berangkat membeli sesuatu yang beliau minta.

Kebiasaan aneh menurut orang kebanyakan. Bila ia membeli makanan ringan biasanya banyak dan uangnya banyak. Dan saya baru tahu kebiasannya kalau uang kembalian yang banyak itu ia langsung memberikannya kepada yang tadi berangkat ke warung.

Seakan-akan ia tidak sayang memberi banyak uang kepada siapapun. Dan saya menyaksikan uang itu mendatangi beliau seperti yang beliau berikan bahkan lebih deras lagi. Ia tidak menolak siapapun yang meminta kepada beliau. Ia pun selalu membeli barang apapun yang ditawarkan kepadanya. 

Orang-orang yang bersamanya akan selalu kenyang. Bila datang ada pedagang datang menawarkan dagangannya maka ia akan membelinya dan ia berikan kepada orang-orang yang ada bersamanya. Dengan becanda ringan dan joke yang mencerahkan selalu saja kami betah berada di sampingnya.

Kalau saja ibu dan bapak tidak memintaku untuk pulang maka saya ingin selalu dekat dengannya. Saya sangat suka dengan pembawannya yang ramah kepada siapa pun. Santri-santri kecil sangat akrab kepadanya seperti sikap mereka kepada bapaknya dan mereka sangat menghormatinya.

Selama 7 tahun saya bersamanya, Saya tidak pernah melihat beliau marah-marah. Saya tidak pernah mendengar beliau memarahi siapa pun. Saya pun tidak pernah dimarahi. Ia selalu tersenyum. Dan saya tahu ia ahli bahasa yang selalu memilih kata-kata yang paling enak didengar dan berupaya tidak membuat orang lain terluka bahkan sampai kepada santrinya pun ia akan berkata dengan kata-kata pilihan. Sering kali ia menggunakan Khabar untuk Insya.
Kecendikiaannya tidak perlu disangsikan lagi. Ia adalah pembaca ribuan judul buku dalam Bahasa Arab, Inggris, Indonesia. Ia menempati banyak sekali posisi penting di berbagai organisasi. Ia menempati pucuk pimpinan dalam istitusi Islam. Dan yang paling ada di hati adalah Beliau adalah guru kami.

Kini, kami telah menjadi guru yang mengajarkan seperti yang beliau ajarkan meskipun bobotnya tidak sama. Maka saya ingin membawa murid-muridku untuk melanjutkan pembelajaran kepada belia uagara mereka tahu keramahan dan kedermawanan yang aku ceritakan. Setidaknya mereka tahu bahwa yang kutuliskan ini adalah benar dan nyata.

Sifat-sifat yang kukenal dari Rasulullah SAW -seperti daam kitab Arrahiiq Almakhtuum- ada pada beliau. Kami dan siapapun akan merasa sangat diperhatikan oleh beliau. Pandangan beliau selalu menyapu kami semua. Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan seperti itu hingga para sahabat merasa bahwa dirinya yang pling diperhatikan oleh Rasulullah SAW.

Dalam diri Rasulullah SAW ada teladan yang harus diperhatikan. Dan saya menyaksikan teladan itu dilakukan oleh guru kami. Rasulullah SAW bahkan tahu siapa yang ketika itu lapar meskipun orang itu tidak mengatakannya bahkan menutupi rasa laparnya dengan menyapa orang-orang yang baru pulang dari masjid. Tapi mereka tidak tahu dan tidak mengerti.

Saya ada cerita, suatu saat saat kehabisan uang. Karena uang kiriman dari orang tua saya dari kampung habis kubelikan kita dan buku seharga 1 juta kurang. Sudah sejak lama saya menyukai bacaan-bacaan itu. Dan saya memberanikan diri (meskipun tidak tepat dan jangan ditiru). Akhirnya saya kelaparan dan melakukan seperti sahabat Rasulullah SAW tadi.

Tapi kawan-kawan saya dikala itu tidak juga paham akan apa yang terjadi kepada saya. Selagi saya berada di beranda masjid bersama orang-orang yang pada makan jajanan yang ada di situ mendadak dari dalam beliau datang membawa dua keranjang besar tahu Sumedang. Saya ingat sekali cerita ini karena saat itu saya hampir binasa karena merasakan lapar yang luar biasa.

Cerita itu hanya sepotong kecil saja dari pengalamanku bersama beliau. Dan anda harus tahu saya bersama beliau itu selama 7 tahun. Dan anda tahu setiap hari beliau selalu begitu. Murah senyum, akrab, santai dalam bermuamalah, bersikap mudah kepada orang lain tapi ketat terhadap dirinya sendiri, ia orang yang paling tahu bagaimana menikmati rezeki dan membagikannya. Semoga catatan ini ada manfaatnya.


logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.