Noda yang Mengantarkan Aku ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah

Tidak ada niat buruk dalam hatiku saat pertama kali pergi ke Ibu Kota. Dengan deraian air mata aku berangkat dengan melangkahkan kaki penuh keyakinan. 

Namun hingga suatu hari hingga satu dasawarsa aku mesti berpura-pura menjadi preman paling ditakuti. 

Wajah tampanku tidak mengurangi ketakutan banyak orang saat memandangku meskipun aku tidak pernah sekalipun menampakkan wajah marah. 

Bekal ilmu beladiri yang aku kuasai aku sanggup menghantam preman jalanan sekali pukul dan ambruk tersungkur. 

Aku benar-benar ditakuti dan uang mengalir melalui kaki tanganku. Ada yang aku sembunyikan tentang jati diriku kepada ribuan anak buahku.

Secara ringkas aku punya keinginan untuk memberangkatkan orang tuaku ke tanah suci dan aku bukan orang jahat seperti terlukis di wajahku saat itu. 

Aku telah menentukan titi mangsa yang tepat kapan aku harus membeberkan semuanya kepada orang-orang yang bekerja padaku. 

Ada yang mereka tidak tahu alasanku tetap menarik angkot. Saat itu aku hanya mengatakan saya ingin jalan-jalan. 

Mereka melarangku karena sebagai bos aku tidak pantas menjadi sopir angkot. 

Mereka tidak tahu bahwa hanya dengan hasil itu saja aku mengirimkan uang kepada orang tuaku dan aku punya satu toko alat bangunan yang cukup besar dari modal narik angkot dan pinjaman dari bank. 

Saat itu, aku berpikir harus melakukan sesuatu untuk anak buahku. Aku tidak ingin mereka seperti itu terus. 

Aku harus berbuat sesuatu dan menyadarkannya. 

Banyak sekali risiko yang harus kutelan mentah-mentah. 

Aku bisa saja kehilangan pamor dan wibawa, penghasilan besar yang sama sekali tidak aku makan dan tidak aku gunakan. 

Saya terus melakulan pungutan namun dengan satu syarat uang yang disetorkan adalah dari pekerjaan halal bukan hasil menakuti orang. 

Tentu saja mereka melakukannya.  Mungkin karena takut. Aku sangat peduli dan setelah berlangsung 3 tahun baru aku katakan bahwa mengumpulkan uang kepadaku jangan karena takut. 

Setiap bulan lingkunganku menampilkan hal berbeda. Anak-anak tidak terlalu liar. Bahkan di antara mereka ada yang menjadi sangat alim dan beralih profesi. 

Hingga saatnya aku membeberkan semuanya dengan mengatakan ungkapan yang khas, apakah kamu mau ikut saya atau tidak aku tidak peduli. 

Memang selama bertahu-tahun mereka tidak tahu untuk apa mengumpulkan uang dan mereka pun buta berapa dana yang terkumpul. 

Saya hanya mengatakan bahwa masing masing dari kalian dapat seratus juta rupiah. 

Mereka tertegun dan berkaca-kaca. 

Saya tinggal mengatakan, itulah sebabnya mengapa uang yang kalian kumpulkan harus dari yang halal. 

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Dan aku kira mereka paham maksudnya. 

Saya pamit mau naik haji dengan orang tuaku. 

Satu lagi aku telah mendatangi setiap orang yang dulu pernah merasa tidak senang denganku dan anak buahku. 

Sekian.  . .

Noda yang Mengantarkan Aku ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.