Kulukiskan Harapanku di Tebing Merah (Sebuah Cerita Monolog)

Tidak terhitung berapa ratus kilometer jarak yang telah kulalui. 
Aku pun tidak pernah mengukurnya.
Sama sekali aku tidak peduli.
Yang jelas jarkanya tidak dekat. 
Bahkan sejauh mata memandang jarak itu seperti tanpa batas akhir.
Hanya saja bila aku pergi setelah shubuh maka maghrib aku baru pulang. 


Jangan ditanya rentang jalan yang rusak parah.
Tidak usah membayangkan runcingnya batu.
Tidak perlu memikirkan tentang sulitnya medan yang kulalui.
Semua hanyalah perjalanan yang wajib kulalui. 

Aku berbuat begitu karena aku punya harapan.
Di masa depan hidupku akan lebih baik.
Maka Kulukiskan cita-cita  di tebing merah di bawah air terjun  tempat aku melepas lelah.

Setelan meraih sukses aku tidak akan pernah lupa.
Pada anak-anak yang tidak beralas kaki.
Pada sungai yang putus jembatannya.
Pada jalan dengan turunan curam. 
Pada sawah kering tanpa pengairan.


logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.