Apa Benar Bahagia Itu Sederhana? (Opini Masyarakat Kekinian)

Apa Benar Bahagia Itu Sederhana? Untuk menjelaskan pertanyaan singkat nan sederhana ini bisa melebar sederhana meskipun semuanya bermuara pada jawaban ya atau tidak. Bila berpikir sedehana saja tentu inginnya kita memilih sederhana.

Tapi dengan menggunakan pikiran yang lebih "cerdas" (katanya), jawaban dari pertanyaan ini menjadi tidak sederhana dan gara-gara si otak cerdas itu jawabannya jadi menghampiri sisi-sisi lain dalam kehidupan ini. Baca juga Dengan Modal 1 Juta, Investasi Apa yang Paling Menguntungkan.

Baca juga Dengan Modal 1 Juta, Investasi Apa yang Paling Menguntungkan.
Siapa, di dunia ini, orang yang "terlihat" selalu bahagia? Secara kasat mata mereka-mereka adalah pelawak, bayi, agamawan, orang kaya, dan satu lagi yaitu orang gila. Meskipun secara maknawi mereka tidak sama namun ada yang menyamakan mereka yaitu sikap mereka yang menyukai dan menerima keadaan yang mereka alami dan semua yang ada pada mereka.

Pelawak sangat senang dengan keberadaannya sebagai pelawak. Seringnya mereka bukan orang-orang tampan rupawan, bukan pula dari kalangan terhormat, bahkan di panggung hiburan sering kali harkat dan martabat  mereka direndahkan, bukan oleh orang lain tapi oleh dirinya sendiri (sengaja) untuk mengundang gelak-tawa dan membuat penonton merasa terhibur. Saat itu sang pelawak pun tertawa bersama penonton, dan mereka tidak tahu apakah pelawak tersebut benar-benar tertawa sebagai ekspressi kebahagiaan. Setidaknya begitu kesannya, tertawa adalah tanda kebahagiaan.

Bayi selalu memancarkan aura kebahagiaan meskipun saat ia sedang buang air besar. Dalam keadaan demikian sanga bayi akan tetap banyak penggemarnya dan orang tidak segan-segan menciumnya meskipun sedang buang kotoran. Meskipun bayi terkadang menangis namun senyumannya begitu tulus dan membahagiakan.

Agamawan adalah orang yang mampu mendidik dan menguasai dirinya. Mereka bukanlah orang yang terlahir sempurna tanpa hasrat dan niat buruk. Namun mereka adalah orang yang mampu membendung dan menahan semua hal buruk agar tidak dilakukannya dan menggantinya dengan kebaikan.

Orang kaya tentu secara peluang, peluangnya lebih besar untuk bahagia. Bila tidak ada kebahagiaan maka dapat dipastikan bahwa ada yang salah dalam dirinya. Orang kaya seharusnya menerima dan mensyukuri kekayaannya.

Dan orang gila adalah orang keempat yang "tampaknya" menjadi paling bahagia dengan hidupnya. Tidak peduli telanjang, tidak mandi, rambut udah gimbal, bau, dan seterusnya namun dia tetap setia dengan dirinya. Dan ia tidak peduli bahkan mampu menuduh bahwa bukan dia yang gila.

Maka menjadi bahagia itu memiliki dan melakukan seperti yang mereka lakukan. Anda tidak bisa menjadi pelawak (mungkin) saat ini, anda kini mungkin bukan agamawan, kita pun tidak bisa menjadi bayi kembali, dan kita bukan orang gila.

Maka menjadi bahagia adalah berupaya membuat orang lain bahagia seperti pelawak. Setidaknya saat menghadirkan kelucuan kita juga bahagia (saat itu). Berupaya tulus bagaikan bayi adalah yang kedua. Mampu menguasai diri adalah yang ketiga. Jadilah orang yang banyak bersyukur meskipun tidak memiliki harta berlimpah. Dan tidak terlalu mempedulikan perkataan buruk dari orang lain adalah yang keempat.

jadi, benar sekali bahagia itu sederhana.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.