Pendidikan Multikultural di Pesantren

Pendidikan sebagai sarana membentuk manusia yang maju, mandiri, dan brmanfat adalah proses yang akan terus berlanjut. Selain itu pendidika adalah sarana untuk mengokohkan dan mewariskan peradaban dan kebudayaan yang telah dihasilkan manusia. Kemajuan umat manusia yang memiliki teknologi modern merupakan lanjutan dari hasil pendidikan.


Pendidikan juga mewariskan nilai-nilai hidup dari generasi masa lalu ke gnerasi sekarang yang keudian berlanjut ke geneasi yang akan datang. Filsafat hidup yang memberikan warna dan gaya berinteraksi masyarakat dengan masyarakatlain tercermin dalam hubungan nyata yan terjadi. Seerangkat norma dan etika pun terbentu tumbuh dan berkembang dalam suatu tatanan yang naik turun.



Sebagailembaga pendidikan tertua di dunia, pesantren adalah wadah dari aktifitas pembelajaran agama yang sistematis dan luas. Dari tempat ini peserta didik atau thullab  wa talaamidz menyerap apapun baik ilmu agama maupun teknologi.


Akhir-akhir ini banyak digembar-gemborkan tentang Pendidikan Multikultural di Pesantren. Pointnya apa dan bagaiamana pelaksanaannya? Point adalah mendidik para peserta didik untuk mampu bersikaf tepat saat menghadapi dan bergaul dengan kalangan lain selain muslim sera budaya lain yang berbeda.


Pelaksanaannya selama ini adalah dengan mengadakan workshop atau seminar dan pelatihan. Termasuk juga penyebaran buku-buku yang mengarahkan cara pandang dan tatanan berpikir yang lebih mengedepankan perdamaian dan keserasian hidup antar ummat yang ada.


Pertanyaannya yang muncul dari banyak kalangan termasuk dari peserta didik sendiri di antaranya mengenail latar belakang kemunculan dari program ini. Sejumlah kalangan mencurigai adanya grand desain atau setidaknya ada stigma buruk terhadap pendidikan di pesantren selama ini.


Secara kritis, sejak dahulu, para peserta didik mengetahui tatacara bergaul dengan pemeluk agama lain sebagaimana yang diajarkan Muhammad Rasulullah SAW. Beliau memberikan contoh bagaimana bergaul dengan mereka. Rasulullh SAW suka akan perdamaian dan ia tidak suka akan peperangan.


Tauladan rasulullah SAW ini terus diajarkan sampai sekarang. Bahwa dalam kisah hidup Rasulullah SAW yang berdamai dan juga berperang menyiratkan bahwa dalam tatanan hidup bermasyarakat ada hal yang boleh dan tidak boleh. Keyakinan adalah batas di antar keduanya.


Peserta didik di pesantren mengetahui dan menjalankan ajaran cinta damai ini. Dan seterusnya hingga akhir masa nanti akan tetap seperti itu. Dan bila pendidikan multikultural dengan maksud melemahkan atau setidaknya mengaburkan makna toleransi yang sebenrnya maka penolakan akan terwujud juga.

Muslim Cinta Damai bukan Biang Keributan

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.