Dongeng Guruku: Asal Muasal Karakter Kita

Sekitar tahun 1991 kami sedang duduk di kelas 1 SD. Mendengar dongeng-dongeng dari guru kami tercinta begitu sangat mengasyikkan. Masih terkenang sebuah dongeng berjudul Si Blewuk yang disampaikan kala itu yang disambut gelak tawa kawan-kawan kami yang gigi serinya mulai pada tanggal berganti gigi baru.

Dongeng-dongeng inspiratif sangat dibutuhkan oleh jiwa-jiwa baru generasi penerus manusia. Ia harus terus dikembangkan. Kisah-kisah heroik para mujahid, syuhada, dan pahlawan sangat berbekas.

Gambar dari Abu Fahry
Salah satu dongeng yang masih lekat dengan ingatan kami adalah dongeng yang isinya berkaitan dengan PEMBANGUNAN KARAKTER. Dongeng ini disampaikan guru kami yang tercinta, yakni Bapak Supriatna. Beliau adalah wali kelas 6 yang saat itu menyampaikan pelajaran di kelas kami, kelas 1.

Bahwa dahulu kala ada 3 orang yang masig-masing memiliki satu anak kerbau, satunya lagi memiliki kapak, dan yang lain punya rumpun bambu. Bagaimana kisahnya? Simak terus di sini.

Pertama

Orang yang memiliki satu anak kerbau semenjak kerbau kecilnya itu lahir ia selalu memangkunya. Kadang-kadang ia menggendong anak kerbau kesayangannya. Terus begitu hingga tidak terasa kerbaunya telah dewasa dan badannya menjadi sangat besar dan beratnya mencapai kwintalan.

Orang-orang yang baru melihatnya menggendong kerbau besar itu tentu merasa heran dengan kekuatannya mampu membawa hewan besar yang beratnya beberapa kali lipat dari berat tubuhnya.

Kedua

Orang yang memiliki kapak, ia menggantungkan kapaknya di pintu searah dengan keningnya. Maka setiap kali ia masuk kapak itu mengenai keningnya. Dan setiap kali ia keluar rumah maka kapak itu juga mengenai keningnya. 

Kejadiannya terus berulang demikian. Hingga lama-kelamaan orang itu memiliki kening yang keras. Ia bahkan mampu memecahkan benda-benda keras dengan keningnya itu.

Orang-orang terheran-heran penuh ketakjuban denngan kemapuannya itu. Ia dipandang sebagai orang hebat dan kemasyhurannya semakin meluas hingga ke negeri-negeri sekitarnya.

Ketiga

Orang yang memiliki rumpun bambu menemukan anak bambu (rebung) keluar sebagai adventif dari induknya. Setiap saat ia melewati anak bambu itu ia melompatinya. 

Terus demikian kejadiannya. Hingga anak bambu itu tinggi ia bisa melompati pohon bambu yang dulu kecil itu. Orang-orang yang melihatnya mampu melompat bagaikan terbang melewati galah bambu yang tinggi merasa takjub dengan kemampuannya.

Pelajaran dari Dongeng

Dari dongeng ini ada hikmah atau pelajaran yang bisa diambil. Di antaranya adalah bahwa kesuksesan itu merupakan rangkaian panjang dari proses yang konsisten dilakukan.

Yang kedua adalah bahwa karakter seseorang itu dibangun dari kelakuan, sikap, dan kebiasaan yang selama ini ia lakukan. Mungkin bagi orang lain ada pertanyaan besar, Kok bisa ada yang mampu mengangkat kerbau, memecahkan benda keras dengan kepala, dan melomati rumpun bambu yang tinggi. Namun bila dilihat itu berasal dari proses latihan yang panjang.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.