Permisalan untuk Sebuah Keikhlasan

Permisalan untuk Sebuah Keikhlasan

Catatan ini berisi sebuah permisalan tentang keikhlasan. Permisalan ini biasanya digunakan untuk lebih mendekatkan makna dan menguatkannya. Biasanya dengan diberikan contoh seorang yang diajak bicara akan lebih faham terhadap apa yang dijelaskan.

Saya mendengar ini dari ceramah KH Abdullah Gymnatsiar. Berikut ini selengkapnya:

Pertama-tama keikhlasan diibaratkan sebagai buah. Beliau menyebutkan buah kelapa. Biasanya kelapa akan berbuah setelah tumbuh tinggi dan berusia 5 tahun. Kwalitas buah biasanya bergantung pada beragam faktor.


Buah kelapa itu kemudian menua di pohon tinggi itu. Ia kemudian jatuh atas izin Allah atau ia dipetik dengan cara dipelintir atau diturunkan dengan ditusuk galah. Kemudian ia jatuh ke tanah dari ketinggian.

Setelah jatuh ia kemudian dikuliti sampai kulitnya bersih. Setelah itu iadibelah hingga airnya keluar. Belum selesai ia terus dipukul hingga batoknya pecah dan masih pula dicungkil-cungkil. Bila tidak dicungkil seketika ia diasap dulu hingga membentuk kopra.

Setelah dicungkil ia kemudian diparut baik secara manual atau dengan menggunakan mesin hingga terkoyak dan halus. Sampai di situ belum berakhir ia masih pula harus diguyur air diperas bahkan sebelum itu ditumbuk dan ditekan.

Rangkaian peristiwa belum akan berhenti hingga santan keluar. Dan bila ingin dibuat menjadi minyak maka ia harus dibakar beberapa lama hingga ia mengeluarkan minyak bening yang memiliki manfaat lain bagi manusia.

Nah seperti itulah keikhlasan. Mungkin ada banyak orang yang hatinya begitu suci hingga ikhlas sudah jadi jati dirinya. Namun saya yakin banyak juga di antara kita yang harus berjuang keras untuk sebuah keihlasan.

Saya sendiri meyakini setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai kadar perjuangan dan pengorbanannya. Mana yang lebih baik bisa ditinjau dari beragam sudut panjang. Namun yang ingin disampaikan adalah bahwa sebaiknya kita menghargai sebuah perjuangan untuk bisa menjadi orang ikhlas.

Mungkin ada orang yang sedang berjuang untuk ikhlas hingga menghabiskan waktu yang lama. Setahun, dua, tiga, empat, lima seperti kelapa itu hingga berbuah. Pergulatan batin itu akan terus berlangsung hingga ia mengeluarkan sari patinya.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang ikhlas dan selalu berjuang untuk menegakannya. Amin

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.