Luar Biasa, Jalan Rusak Antara Cimaragang, Neglasari, Cibuluh, dan Puncakbaru

Ini adalah catatan perjalan dari Desa Cidamar sampai desa Puncakbaru. Didorong oleh rasa ingin tahu ke pelosok terjauh Kabupaten Cianjur, akhirnya saya berangkat dengan dua orang kawan. Kami meluncur pukul 11 siang.

Memasuki daerah cikidang jalan mulai hancur rusak





Semakin jauh semakin hancur dan parah. Tanjakan dan turunan tajam dihiasi batu-batu tajam dan rupa jalan bagaikan sungai yang tidak ada airnya. Jalan yang rusak semakin menyeramkan dengan genangan air di mana-mana hingga licinnya jalan seperti membuat nyawa ada di ujung tanduk.

Sampai di Neglasari Jam 13 siang. Dan cuaca mulai mendung. Jalan ke tempat tujuan semakin sempit dan licin. Hancurnya jalan sudah bukan kepalang lagi. Ini hancur sehancur-hancurnya.






Makan dan minum yang banyak cukup menjadi pelipur lara. Dan perut harus penuh untuk perjalanan yang berat ini.Telah ada di lokasi tenda sederhana dan panggung untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sore hari kami mulai dengan do'a.





Setelah Isya penduduk setempat disuguhi film islami yang inspiratif dan lalu acara dimulai dengan senandung lagu-lagu qashidah.













Esok hari, Kamis, kami bersiap menuju ke Puncakbaru untuk menghadiri sebuah acara. Dan karena suatu hal terpaksa salah satu kuda besi kami harus ditinggalkan di rumah seorang sahabat. Dan kami meluncur ke Puncakbaru.

Jalan masih teramat hancur. Namun Alhamdulillah sesekali ada jalan yang dicor dengan baik. Selebihnya jalan berbatu dan bertanah licin menemani sepanjang perjalanan. Terutama di Cibuluh kami rasakan itu jalan yang paling menyesakkan dada.

Beberapa kali penumang harus turun dan rela berjalan kaki. Beberapa kali tunggangan kami hampir terjatuh ke kiri dan ke kanan. Dan sudah sering kali motor slip dan masing-masing satu kali terjatuh.




Di pertengahan jalan keberuntungan dan pertolongan Allah datang. Dua orang pemuda ikhlas membantu kami. Dan mereka membonceng kami. Luar biasa Didan dan kawannya membawa motor pada jalan yang menanjak tajam, berbatu, dan berlumpur, dengan sangat baik. Luar biasa.

Sampai di Puncakbaru sejenak beristirahat di rumah Bapak Sekdes. Dan lumayan lama menuju kawan kami yang belum tiba. Ternya motor ada kendala. Dan kami memang tidak bisa menghubunginya karena sinyal HP tidak ada.

Setelah siap kami menghampiri lokasi dan duduk bersama para sesepuh Puncakbaru.








Setelah selesai kami menuju Batuireng. Saya ikut saja. Saya belum tahu itu di mana.Tahu jalannya? Curam dan berbatu, licin pula.








Indah bukan? Inilah surga yang tersembunyi. Dan sampai di lokasi Batuireng kami langsung berpose bersama anak-anak pengajian.
























Banyak cerita di sana. Dan cerita dari Apih Aban begitu menarik perhatian. Ada lagi tentang Eyang Layadikara. Ke depan akan saya ceritakan. Tentang pemandangan indah dari rumah Ustadz Mawan dan keluarga, serta Ustadz Uu yang baik hati. Tentang makan belut dan sambal goang. Tentang dipijat dengan khidmat dan wajib.

Menjelang malam kami bersiap. Infocus dan laptop sudah siap. Panggung terlihat elegan ada di pinggir masjid. Bahagia melihat masyarakat asyik menyaksikan film pendek tentang Kisah Umar RA.










Semua berjalan lancar. Kami pulang diiringi tangisan Muhammad Wahid Naupal. Seorang anak kecil yang selama kai di sana selalu ikut kemana pun kami pergi. Ia bercita-cita ingin jadi Imam Makkah. Luar biasa Allahu Akbar !!!

Medan berat kembali akan kami lalui.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.