Kalau Saya Tidak Diuji Dengan Semua Itu, Saya Tidak Akan Mendapatkan Semua Ini

Kalau Saya Tidak Diuji Dengan Semua Itu, Saya Tidak Akan Mendapatkan Semua Ini - judul yang panjang bukan untuk calon tulisan yang direncanakan pendek ini. Saya bermaksud ingin mencatat sebuah pelajaran berharga yang saya dengar. Saya takut lupa makanya saya catat di pagi ini. Kalau dinanti-nanti dan ditunda tunda saya suka lupa akhirnya kebaikan saya berkurang karena tidak share hikmah kebaikan.

Ini sebenarnya renungan buah pengalaman. Yang mengalami ini adalah seorang pengusaha di Kota Bandung. Hasil dari renungan yang diambil dari perjalanan hidupnya ia menemukan ini. Hingga ia memformulasikannya dalam kalimat panjang ini. Tentu tidak seratus persen seperti judul ini: Kalau Saya Tidak Diuji Dengan Semua Itu, Saya Tidak Akan Mendapatkan Semua Ini.

Ujian dan Pahala
Kalau Saya Tidak Diuji Dengan Semua Itu, Saya Tidak Akan Mendapatkan Semua Ini

Ia bercerita,
10 tahun usia pernikahan ...

Baca juga hikmah perkataannya yang lain di Sini dan di Sini serta di Sini.

Lanjutkan ceritanya,
Selama 10 tahun itu hidupnya biasa-biasa saja untuk tidak mengatakan susah. Namun ia selalu bersikap Jujur dan Istiqamah, selain sikap dan karakter baik yang lain. Ia terus saja menjaga itu. Apakah orang Jujur dan Istiqamah ini selalu mujur dan bahagia. Ikuti terus tulisan ini!

Namanya manusia selalu ada lemah dan salahnya.  Meski pun ia berbuat jujur ada saja orang yang menganggapnya tidak jujur hanya karena bisnis yang dipercayakan kepadanya gagal menghasilkan keuntungan. Dan beliau juga beberapa kali kena tipu orang termasuk beberapa kali dihadapkan pada kesulitan.

Begitu pun dalam hal istiqamah. Sebagai manusia tentu ia merasakan sering sekali ia terlepas dari istiqamah. Bahkan ia mencontohkan dan mengatakan belum bisa istiqamah seperti saudaranya. Namun begitu terus saja ia melakukan ini. 

Pernah terjadi dalam perjalanan bisnisnya ia disekap selama 1 bulan lebih di sebuah rumah. Saat itu terjadi hal yang tidak diinginkannya. Ia mempertemukan kawan yang punya modal untuk diinvestasikan di sebuah bidang usaha. Ternyata saat itu orang yang dipercaya menjalankan usaha berkhianat dan melakukan kejahatan. 

Selama itu ia disekap. Pilihan hanya dua saja. Mati atau pulang ke Bandung. Saat itu ia bilang " ... Kalau itu uang saya pasti saya akan memilih pulang, TAPI itu bukan uang saya ..." Begitulah ia mempertahankan kejujurannya. Padahal mungkin bagi orang lain memilih pulang, karena ia hanya berperan mempertemukan dua pihak yang deal-dealannya pun diserahkan kepada dua pihak tersebut. Namun begitu ia merasa bertanggung jawab  karena memang ia lah yang mempertemukan keduanya, ia yang meanggil kawannya itu dan menyaankannya berinvestasi.

Selam itu pun ia tetap bahkan lebih giat shalat, tilawah dan dzikir. Ia pasrah sepasrah pasrahnya kepada Allah. Ia percaya Allah sedang "tersenyum" menyaksoikannya yang terus mengadu pada-Nya. Dan pertolongan Allah pun datang. Allah teramat sayang kepada orang yang menyerahkan hidup hanya untuk-Nya.

Datang lah suami dari pengusaha yang menyekapnya selama ini. Pemilik rumah kaget ada beliau di dalam. Dan ia ditolong olehnya. Uang punya temannya pun dibayar bahkan ditambahkan 7 juta untuk pulang ke Bandung. 

Ujian hidup yang berat ternyata mendatangkan "upah" yang gede pula. Luar bisa. Pengusaha kita ini mendapatkan semua kemudahan yang ia dapatkan sekarang ini. Bila ia tidak mempertahankan kejujurannya dahulu maka kemngkinan besar ia tidak akan mendapatkan kemudahan-kemudahan ini.

Semoga ini bermanfaat!
Bila anda berkenan saya minta ini dishare kepada kawan-kawan anda. 

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.