Bersiaplah Untuk Menghadapi Kematian

Bersiaplah Untuk Menghadapi Kematian - Hidup di dunia tidak akan abadi. Tidak akan lama lagi dunia akan meninggalkan kita dan kita pun meninggalkan dunia. Dunia ini adalah jembatan yang mengantarkan kita ke akhirat. Kematian adalah pintu yang menghubungkan ruang waktu dunia dengan akhirat.

Seseorang terperanjat setelah melihat angka usia 45 tahun. Selama ini ia menghitung usianya dan kali ini ia begitu terkejut, " ... saya ini sudah tua, hampir mati ...". Ia lihat rambutnya telah ada yang memutih. Ambisi dan gairah di arena persaingan bisnis dan kehidupan mulai terasa berkurang. Bahkan keberanian pun menipis. Badan cepat lelah. Sedikit saja ke luar rumah sudah merasa lelah. Dan bila mendapat kabar tidak sedap lutut terasa lemas.

Seorang yang lain menyebutkan, bahwa hidup terasa panjang itu pada rentang usia 20 sampai 40 tahun. Saat itulah ambisi manusia begitu besar. Bila tidak diarahkan dengan benar bisa jadi malapetaka yang menghancurkan dirinya.

Ingin tahu kunci sukses yang wajib anda miliki silakan klik di sini

Usia ini adalah usia emas. Saat inilah seharusnya dipakai untuk berjuang habis-habisan. Bila perjuangan tidak dilakukan maka semuanya luput. Karena masa-masa ini tidak kan lewat dua kali. Itu terjadi hanya sekali. Seseorang tidak bisa reinkarnasi dan kembali ke usia sebelumnya. Dan bila lewat maka ambisi besar itu tidak akan singgah lagi dalam jiwa. Meski pun tidak ada kata terlambat namun sebaiknya kita mempersiapkan diri.

Usia 20 sampai 30 ini adalah saat terbaik untuk belajar dan berjuang dalam arena hidup yang sebenarnya. Apa pun yang positif harus dilakukan dengan benar, jujur dan tuntas. Membuka mata dan saluran informasi dan mengeksekusinya dengan cerdas dan cepat. Saat ini pun kita harus pula menutup mata dari gengsi dan mencocok telinga dari bisikan yang hanya menghalangi diri untuk maju. Bisikan itu ada yang lantang dan menghentak ada juga yang pelan, lirih dan manja.

Setelah 40 tahun barulah ritme kerja dan ambisi mulai menurun. Intensitas stres dan hidup dalam dendam seharusnya diminimalisir. Hidup yang tidak sehat harus diubah dengan hidup yang sehat. Bila dulu selalu saja punya ambisi " ... kalau saya punya ini, maka saya akan ..." terus begitu hingga jiwa merasakan kelelahan yang sangat.

Usia ini adalah saat yang cocok untuk kembali merenungkan, mengevaluasi, dan beramal lebih giat. Saat ini kita harus memilih amalan-amalan tambahan yang sesuai dengan keadaan kita. Ada yang mungkin lebih senang dengan shalat sunnah, atau puasa, bisa juga tilawah Al-Qur'an. Yang jelas harus ditambah dengan mengjhadirkan kemanfaatan yang lebih besar bagi orang lain. Mungkin menggotong, memanggul, membuat apa saja bagi kemaslahatan orang lain.

Renungan ini ditujukan untuk saya pribadi. Dan barangkali anda yang membacanya juga sama kondisinya dengan saya maka tulisan ini semoga bermanfaat. Agar manfaatanya lebih luas silahkan bagikan kepada teman-teman kita.

NB. Foto itu adalah foto Bpk Dadang yang menjadi inspirasi tulisan ini.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.