You go for It, not Me

You go for It, not Me-Pernahkah kita mengajak orang untuk pergi belajar ke suatu tempat … ???

Jawabannya pasti beragam. Diantara jawaban itu adalah kalimat You go for it, not me.

Dalam kondisi tertentu jawaban seperti ini berakibat fatal. Bukan karena redaksinya yang menandakan kemalasan, namun ada tanda hitamnya ketakutan. Bila muatan kata ini negative maka yang melakukannya pasti orang yang negative baik dalam cara berpikir maupun dalam pola bertindak.

Jawaban dengan menggunakan kalimat di atas sangat mirip dengan jawaban orang-orang durhaka di kalangan Yahudi. Saat Musa menyeru untuk memasuki suatu negeri yang dikuasai oleh suatu kaum yang jahat maka jawaban mereka terhadap ajakan Musa adalah; “ … Pergila kamu bersama tuhanmu, berperanglah kalian berdua, biarkan kami di sini duduk-duduk menunggu … “ Sungguh lancing sikap mereka terhadap Nabi mulia ini.

Dalam tataran masyarakat, kalimat You go for it, not me adalah cerminan diri yang egois, mementingkan diri sendiri, tidak mau bekerja sama, tidak taat pada aturan, ingin enaknya saja, malas, oportunis, tidak tenggang rasa dan tidak mawas diri, tidak senasib sepenaggungan, dan sikap buruk lainnya.

Dapat bula kita tafsirkan dari kalimat You go for it, not me sebagai sikap kemaruk dan sombong. Kemaruk artinya rakus. Ia menyangka bahwa kenikmatan dan semua kesenangan hanya layak untuk mereka, sedangkan kepayahan dan kesusahan sangat pantas untuk orang lain yang bukan dirinya. Maka dengan ini pada akhirnya akan melahirkan sikap sombong, diantaranya dengan beranggapan bahwa orang lain lah yang layak untuk dikorbankan dalam perang sementara dirinya yang dianggap punya kemuliaan sungguh tidak pantas bahkan untuk meneteskan sebulir keringat pun.

Mari menempatkan setiap kata dengan hikmah dan positive

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.