Tekad Zhavira Untuk Para Calon Pengantin


Zhavira merasakan sulitnya biaya pernikahan. Saat keinginan untuk menikah sudah sangat kuat. Sementara dalam genggaman tidak sepeser pun uang. Gaji dari pekerjaan yang selama ini ditekuni sudah dapat diperkirakan jumlahnya.

Untuk menghasilkan sejumlah uang yang cukup bagi biaya pernikahan tampaknya berbanding lurus dengan lamanya waktu penantian. Sementara usia semakin berjalan cepat menuju titik kepastian. 


Memang menikah saat muda atau pun waktu usia sudah tidak muda lagi tidak menjadi masalah selama tetap dalam pondasi yang benar. Namun kita berhak untuk merencanakan yang lebih baik. Itu benar, dan tidak salah bila semua terasa ingin dipercepat.

Saat ikhtiar seperti tidak berbuah. Hasil yang diharapkan dari usaha serasa nihil saja. Hanya setetes setetes kepingan uang masuk pundi-pundi yang sempit. Saat itu betapa hanya Tuhan saja yang bisa diharapkan. namun terkadang iman pun diuji saat merasa Tuhan sudah tidak berpihak lagi.

Berharap tentu wajib dan orang yang kehilangan harapan adalah orang yang sudah gugur kewajibannya, karena ia telah mati dalam bangkai harapannya sendiri. Namun berharap pada manusia melelahkan, menunggu mereka sungguh melelahkan. Dan akhirnya hanya mengandalkan Tuhan dan Ia yang menjadi Tumpuan.

Namun sering juga harapan tinggal harapan. Karena untuk berharap pun orang akan diuji. Harapan kosong yang hanya angan-angan akan membuih dan sirna dihantam gelombang. Harapan yang mengapung dan mengambang hanya penghias arus yang tidak tahu arah.

Selangkah mundur ke belakang. Karena sunyinya kenyataan dari kondisi yang diharapkan membuat insan hancur harapannya, rusak tekadnya, dan putus tali jiwa di hatinya. Saat itu ia terjatuh kesakitan, ia tertatih tanpa pijakan dan pelita.

Begitulah kiranya gambaran orang yang sedang bingung menghdapi dirinya yang lemah iman hingga ia tersesat tanpa tahu arah dan tujuan.

Saat semua pintu telah tertutup, pintu yang mana lagi harus diketuk.
Saat semua pinta berbuah penolakan, pada siapa lagi mengajukan permohonan,
Saat semua jalan menjadi buntu, jalan mana lagi mengayuhkan kaki.
Saat semua tali telah terputus, temali yang mana lagi harus dipegang.
Saat semua lampu telah mati, maka pelita yang mana yang masih menyala.
Saat semua celah telah menyempit, lobang yang mana lagi harus di gali.
Saat timur dan barat menjadi nisbi, arah yang mana lagi harus dituju.

Menjadi Pelita

Zhavira merasakan sangat bersyukur saat ada yang mau memberinya pelita, membawa kepada cahaya, menunjukkan jalan yang benar, menerangi jalanan yang penuh onak dan duri. Ia merasa harus bersyukur saat masih ada yang membuka pintu dan sempat mendengar pinta, mengulurkan tangan, memberi pegangan, menunjukkan jalan dan arah.

Di dunia ini selalu saja ada orang-orang mulia yang mau berbagi kesenangan dengan orang yang sedang sedih dan bingung. Jumlah mereka banyak. Dan Zhavira bersyukur orang-orang itu hadir tanpa diminta, bertanya tanpa dimohon, merangkul tanpa ditarik, menyapa tanpa ragu.

Yang punya cinta akan berlaku seperti itu. Meski terkadang mereka malu sendiri dan sering bilang ini bantuan dari si anu dan si anu padahal itu darinya, semua paham itu. Ia hanya tidak mau saudaranya merasa tidak enak hati. Maka dengan rendah hati ia berkata: "ini buat beli garam ..."

Ungkapan yang bermakna dan penuh kelembutan. Lembutnya suara hati yang penuh welas asih dan murninya tekad jiwa yang berbalut keikhlasan. Mereka membuat iman pada Tuhan bersemi kembali. Itu tanda yang kurang baik, beriman bila dapat anugerah, namun setidaknya ajaran ini menceritakan bahwa dengan memberi membuat orang jadi bersyukur dan beriman.

Maka Zhavira ingin Jadi Pelita Juga

Merasakan syukur saat ada yang membantu menaikkan derajat tekad dalam diri Zhavira bahwa Zhavira harus bisa seperti mereka. Benar harus bisa menjadi seperti mereka. Zhavira pandang mereka orang-orang yang ikhlas.

Mereka tidak kaya tapi mau berbagi dengan harta yang disisihkannya. Zhavira tahu penghasilan mereka. Dan mereka berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Zhavira harus bisa menjadi pelita bagi orang lain seperti yang pernah mereka lakukan kepada Zhavira.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.