Berkenalan dengan Keluarga Aman Mostavan

Pertama kali bertemu, saya diajak seorang santri senior Didin Sahidin, S.Pd.I. Saat itu beliau akan menikah sehingga tugas untuk mengajar Albayruni Mosavan akan dilangsungkan oleh saya.

Saya meneruskan pembelajaran Al-Qur'an bersama seorang anak yang cerdas dan berbakat. Kami bertiga mengaji tiap pagi di hari minggu. Ditemani Hoer kami belajar bersama. Saat itu tugas saya bukan mengajarinya membaca Al Qur'an saja, namun membangun cakrawala keislaman dan tantangan masa depan serta pengetahuan yang harus diketahui dalam menghentikan ancaman terhadap dunia Islam.

Keluarga Islami

Kalaupun mereka tidak mau menyebut dirinya sebagai keluarga Islami, namun setidaknya saya yang mengatakan ini punya argumentasi. Ibu Herni Sarbini sangat ketat dalam menanamkan Agam islam kepada putera-puteranya.

Keluarga Ilmuwan

Keluarga Ilmuwan ini sangat lengkap. Bapak Aman Mostavan merupakan lulusan ITB dan universitas di luar negeri, kalu saya tidak salah beliau lulusan universitas di Jerman dan Prancis. Ia pernah berugas di beberapa negara di luar negeri.

Anak Pertama yang suka kami panggi A Avi adalah lulusan dari ITB dan Belanda. Naa lengkapnya adalah Averrous Mostavan. Beliau pernah bertugas di Singapura dan kini di Amerika.

Putera kedua biasa kami panggil dengan panggilan A Agi merupakan lulusan dari ITB dan Italy serta Canada. Nama lengkapnya adalah Afghani Mostavan.

Anak ketiga yang kami panggil Cecep atau Albi merupakan lulusan ITB, dan saat tulisan ini dicatat ia sedang berada di Jerman. Ibu Aman menyebutkan bahwa saat tugas akhir di ITB Cep Albi sempat mengirimkan Makalah Ilmiah ke Jerman. Dan Ia kini diundang ke sana untuk menjadi pembicara. Dan hebatnya ia adalah pembicara termuda di seminar tersebut. Alhamdulillah ...

Makanan yang Enak

Ini agak rahasia namun penting. Rahasia karena menyangkut rahasia perusahaan dan keluarga. Penting? pasti penting karena ini bagian yang tidak terpisakan dari pengalaman saya selama ini.

Sepulang kami belajar mengaji biasanya saya tidak pulang dengan tangan hampa. Selalu saja ada bah tangan yang istimewa. Namanya "makanan lezat". Ia bingkisan ini sangat dinanti oleh kawan saya sesama santri. Ya makanannya variatif dan selalu lezat hingga kami bisa makan bersama dengan lahap. Ibarat kata di pesantren "perbaikan gizi".

Kurban yang Memberi Bahagia

Saat Idul Adha akan segera tiba, banyak hewan kurban tertambat di warung-warung hewan dan di halaman-halaman masjid. Keluarga Bapak Aman Mostavan selalu menyembelih kurban di Pesantren Kami. Ini membuat hati Masyarakat sekitar jadi bahagian dan tentunya santri-santri.

Bila dituliskan semuanya tentu halaman ini tidak akan cukup. Sampai disini Saya sanga bersyukur bisa mengenal sebuah keluarga yang sangat inspiratif.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.