Multilevel Paling Booming Dari Semenjak Adam

Dunia ini adalah perusahan yang harus kita kelola. Ada kisah menarik tentang ini. Sebenarnya tidak begitu nyambung juga hanya saja ini berkaitan. Anggap saja sebagai pembuka.

Ceritanya ada seorang hamba Tuhan yang tercatat sebagai pengumpul amalan yang banyak hingga ia pantas masuk sorga. Kemudian didatangkanlah amalan-amalannya semasa di dunia. Besarnya bukan dikira. Bergunung gunung besar amalan dihadirkan, ada disitu pahala iman yang gundukannya lebih besar dari gunung apapun di dunia, ada pahala shalat, ada pahala, zakat, ada pahala puasa yang dulu dirahasikan Allah, ada pahala hajji, ada pahala mengurus jenazah sampai menguburkannya yang besarnya sebesar dua gunung Uhud yang kembar empat. Pokoknya amalannya besar-besar dan bila ditimbang beratnya pasti tiada terkira, pokoknya berat. Dan amalan ini setelah ditimbang mengalahkan timbangan dosanya.

Lantas ternyata amalan-amalan yang besar ini bukanlah sebab utama yang mengantarkannya masuk sorga Allah. Yang menjadi sebab utama ia masuk sorga adalah karena Rahmat Allah. Bagaimana dengan amal? tentu ini adalah faktor penyebab yang mendatangkan Rahmat Allah. Jadi manusia bisa beramal adalah karena Allah yang memberikan modal kepadanya. Modalnya apa? Banyak ! Ada iman, ada hidayah, ada sehat, ada harta dan banyak lagi. Dan ternyata satu modal itu yang biasa kita sebut nikmat saat ditimbang dengan gunung-gunung amal itu ternyata timbangannya lebih berat. Nikmat mata saja sudah lebih berat apalagi ditambah nikmat-nikmat yang lain.

Dunia Tempat Kita menanam Amal

Hukum tebar-tuai berlaku. Ituulah sunnatullah. Bila manusia menanam belewah maka ia memanem belewah. Bila ia menanam yang istimewa maka ia memanen ang istimewa. Bila manusia menanam jeruk maka ia memanen jeruk. Bila ia menanam buruk maka ia akan menanam buruk.

Baik dan buruk akibat amal kita akan kita rasakan sendiri. Semua sudah ada balasan yang ditetapkan. Maka yang berbuat zhalim akan dihukum dan yang berbuat santun akan disanjung. Yang mencubit akan dicubit dan yang membuat orang lain nangis akan menangis. Yang menghina akan hina yang memuji akan terpuji.

Manusia Adalah Teladan Bagi Manusia Yang Lain

Kita tidak tahu, kata-kata kita yang mana yang mendorong orang lain untuk berbuat baik, mendadak insaf, rajin sedekah, tidak ketinggalan shalat, semangat berderma, rajin mengaji, dan lain-lain.

Kita juga terkadang tidak tahu tulisan kita yang mana atau celotehan kita yang mana yang mengilhami orang lain untuk berbuat jahat. Seperi kita yang tidak sadar akan wahyu yang dibisikkan iblis ke dalam hati kita hingga kita gelap mata.

Ini yang perlu diwaspadai. Meskipun kita tidak melakukan kejahatan yang dilakukan orang lain, bahkan kenal dengan pelakunya pun tidak, namun bisa-bisa kita dihadirkan dipersidangan Allah nanti dan status kita sebagai, guru, pemimpin, mentor, bagi para pelaku kejahatan gara-gara kita bicara tidak baik dan menulis yang keji, hingga yang saat di dunia kita kenal pun tidak namun tetap Allah menggolongkan kita dengan mereka dan kita disebut saudara mereka, na'udzubillah.

Maka meskipun amal sendiri akan dirasakan akibatnya sendiri, namun bila itu menginspirasi maka akan terjadi multilevel pahala atau bahkan siksa. Dengan ini beramal baiklah karena amal baik itu akan menginspirasi orang lain, dan bila tauladan kita terus dilakukan oleh banyak orang hingga nanti maka inilah multilevel amal baik yang pahalanya akan terus berlipat tanpa mengurangi pahala pelakunya.

Hati-hatilah jangan sampai berbuat jahat, apalagi perbuatan tidak baik kita menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan yang sama. Karena itu akan terus melipat gandakan siksaan tanpa mengurangi siksaan yang dialami pelakunya.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.