Cara Paling Sukses Menjadi Juara MTQ Cabang Tilawah

MTQ adalah kependekan dari Musabaqah Tilawatil Qur'an. Dalam ejaan Arab ini tertulis Musaabaqah Tilawah Al-Qur'an. Bila ditulis akan menjadi مُسَابَقَة تِلاَوَة الْقُرْآن. Maknanya adalah Perlombaan Pembacaan Al-Quraan. MTQ ini adalah agenda Nasional Negara Republik Indonesia yang memiliki landaasan Pancasila sebagai landasan Idiilnya. Memang banyak suara sumbang yang mempertanyakan asas manfaat dari dilaksanakannya MTQ ini. Namun begitu secara faktual jawabannya sudah ada. Yakni Manfaatnya sangat banyak.

Selain sebagai parameter dan evaluasi LPTQ atas upayanya mengembangkan pembinaan-pembinaan pada Ilmu-ilmu Al-Qur'an, MTQ dilaksanakan sebagai upaya sadar masyarakat untuk menjaga Kitab Sucinya. Jadi kalaupun pemerintah tidak mengorganisasikannya maka masyarakat sendiri akan mengkoordinasikan dan mengadakannya.

MTQ dahulu kala hanya memperlombakan satu cabang saja, yaitu cabang Tilawah Al-Qur'an. Pertama kali dilaksanakan di Makasar cabang tilawah ini telah melukiskan satu nama juara yaitu Ahmad Syahid dari Jawa Barat. Nah setelah beberapa tahun kemudian barulah ada tambahan cabang perlombaan. Dan ini merupakan sesuai dengan disiplin Ilmu-Ilmu Al-Qur'an sangatlah banyak. Para ulama ada yang mengatakan lebih dari 70 cabang disiplin ilmu Al-Qur'an.

Kali ini akan coba kita bahas tentang cara paling sukses atau berpeluang besar bagi keberhasilan peserta dalam menjuarai cabang Tilawah. Dalam Makalah ini penulis tidak memisahkan antara cabanga Anak-Anak, Remaja, dan Dewasa.

Sedikitnya ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam MTQ cabang Tilawah.
  • Fashahah
  • Tajwid
  • dan Naghmah

Berkaitan dengan Fashahah

Fashahah ini adalah banyak bersinggungan dengan Kaidah Bahasa Arab, khususnya Sharaf dan Nahwu dan selebihnya tentu makna, baik makna ashli atau makna dalam jumlah. Dengan pengetahuan ini maka peserta akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dan tidak seharusnya terjadi.

Dalam Fashahah ini ada 4 hal yang harus benar-benar peserta ketahui.
Hukum waqaf dan Ibtida'
Mura-atul huruf wal harakat
Mura'atul Kalimat wal Ayat
Adabuttilawah

Hukum waqaf dan Ibtida', berati peserta harus faham waqaf-waraf yang baik dalam membaca Al-Qur'an dan yang tidak baik. Ada empat macam waqaf yaitu; Tam, Kafi, Hasan, dan Qobih. Begitu pula peserta harus faham dimana harus memulai bacaan. Cara memulai bacaan atau ber-ibtida' ini sama ada 4 pula. Ada Tam, Kafi, Hasan, dan Qabih. Dari cara waqaf dan ibtida janganlah sampai ita jatuh pada waraf atau ibtida Qabih. Bila kesalahan dalam hal ini fatal (Jali), maka nilainya akan dikurang 3. Bila tidak fatal (khafi) maka nilai akan dikurangi 1. Dan catatan yang harus disampaikan, bila terjadi jal dalam waqaf dan peserta sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan, maka kesalahan Jalinya tidak terhapus.

Mura-atul huruf wal harakat, berarti peserta harus teliti dalam membunyikan huruf-huruf jangan sampai tertukar. Begitu pula dalam hal harakat janganlah sampai ada yang tertukar. Kesalahan dalam aspek ini ada yang fatal (Jali) ada juga yang tidak Fatal). Yang fatal adalah yang bisa merubah arti, misalnya; أَنْعَمْتَ jadi أَنْعَمْتُ, atau العالمين jadi الآلمين.

Mura'atul Kalimat wal Ayat, berarti peserta harus teliti jangan sampai ada ayat dan kalimat yang terlewat. Misalnya bila ada petunjuk bahwa kita harus memulai dari ayat ke 25 maka berarti kita harus membaca dari sebelum bulatan tanda ayat bernomor itu. Dan bila ada kata-kata yang mirip atau sama, maka janganlah sampai ada yang terlewat. Bila ini ada yang terlewat maka kesalahannya sangat fatal (Jali) dan dikurangi 3.

Adabuttilawah, berarti etika kita dalam membaca Al-Qur'an. Ini lebih fokus pada soal penampilan, misalnya pakaian, peci, selendang, rambut, dan lainnya. Jangan sampai ada kancing baju yang salah tukar tempat atu rambut acak-acakan dan gondrong. Pakaian harus pula bersih dan rapi, serta sikap tubuh harus khusyu'.

Berkaitan dengan Tajwid

Tajwid ini lebih banyak bersinggungan dengan beberapa hal yang wajib diketahui para peserta yang ingin berhasil menjuarai MTQ, berikut di antaranya;
Makharijul Huruf
Shifatul Huruf
Ahkamul Huruf
Ahkamul Madd wal Qashr

Berkaitan dengan makharijul huruf, tentu peserta harus berupaya mengenali, menguasai, dan membunyikan huruf-huruf Al-Qur'an tepat pada tempatnya. Dalam kitab-kitab Tajwid banyak disebutkan tempat-tempat keluarnya huruf, ada yang menghitung 17 ada yang 18. Semua bisa dipelajari langsung dari para asatidz di pesantren.

Shifatul Huruf, berkenaan dengan karakteristik huruf-huruf Al-Qur'an. Bila dirinci maka akan ada klasifikasi Ashli bukan ashli (Ashl wa Far'), Ada Kuat dan rendahnya tekanan (Qawiy wa Ghair Qawiy), ada yang punya lawan ada juga yang punya sifat lain. Dalam beberapa hal dapat disimpulkan menjadi 3. Yaitu Ashliyah, Lazimah, dan Fa'iyyah. Semua harus dipelajari dengan talaqqi epada para ustadz yang fasih, dan teorinya bisa dipelajari dalam kitab-kitab tajwid.

Ahkamul Huruf, berkaitan dengan hukum Nun Sukun dan Tanwin, Hukum Mim Sukun, Hukum Al, Hukum Ghunnah. Maka ini meliputi hukum Idgham, Izhhar, Iqlab, dan Ikhfa dalam setiap bagiannya. Ini harus diketahui dan diterapkan dengan baik. Dan jangan sampai salah menerapkannya. Satu kesalahan walaupun bukan jali atau fatal namun dapat mengurangi nilai para peserta sekalian.

Ahkamul Madd wal Qashr, berkaitan dengan hukum memanjangkan dan memendekkan bunyi bacaan-bacaan Al-Qur'an. DDisini perlu latihan dan penguatan. Penerapannya harus dibuat sebaik mngkin dan sekonsisten mungkin. Bila mad thabi'i maka jangan lebih dan jangan kurang. Sedangkan bila mad 'aridh lissukun pertama membaca 4 harakat maka selanjutnya harus konsisten pada 4 harakat tersebut.

Berkaitan dengan Naghmah (Suara dan Lagu)

Jumlah poin untuk di Kabupaten adalah 40 dan tidak dipisahkan. Dalam bidang ini ada yang sangat penting bahwa suara yang baik untuk membaca dan melantunkan Al-Qur'an pada pelaksanaan MTQ adalah suara yang bagus da indah. Suara yang bagus adalah;
  • Ada getaran dzauq
  • Berlahjah dan vibra Arabi
  • Tidak parau
  • Tidak sengau
  • Tidak sumbang
  • Tidak terlalu bergetar
  • Tidak terlalu halus
  • Tidak serak
  • Tidak berdzauq
  • Tidak terlalu melo

Dari hal-hal di atas maka suara yang paling baik adalah suara yang bulat dan tidak sengau masuk ke hidung. Maka dengan ini penting untuk memperbaiki kualitas dan keajegan suara. Disinilah endurance atau daya tahan peserta harus diperbaiki. Kwalitas suara yang merata dari awal sampai akhir merupakan plus tersendiri.

Maka dalam hal Lagu tidak terlepas dari;
Jumlah lagu
Peralihan, Keutuhan, dan Tempo
Irama, Gaya dan Variasi

Jumlah Lagu dalam MTQ untuk anak-anak minimal 3 ditambah bayyati. Dan untuk golongan remaja dan dewasa paling minimal 4 ditambah bayyati. Bila kurang maka itu tergolong kesalahan fatal (Jali) karena komposisi lagunya kurang. Dan untuk babak penyisihan, yang harus diperhatikan adalah harus dimulai dengan lagu bayyati. Bayyati ini punya nilai 6 dengan 3 tingkatan nada; Qarar, Jawab (Husaini), dan jawabul Jawab. Dalam tiga tingkatan nada tersebut harus dilantunkan minimal 2 tangga dari setiap taangga nada.

Peralihan, Keutuhan, dan Tempo berkaitan dengan peralihan dari satu lagu ke lagu yang lainnya. Peserta harus jeli dan teliti jangan sampai pindah interval nada atau tempo. Yang penting lagi jangan sampai tidak menuntaskan lagu dengan utuh. Misalkan beralih dari lagu Rasyt ke lagu Nahawand sementara lagu pertama baru pada tangga nada Ashli, sementara rasyt paling sedikit harus memiliki tiga tangga nada, yaitu ashli, nawa, dan jawab, atau janjiran. Bila lansung disambung ke Nahawand sementara nada baru selesai dari rasyt ashli maka itu termasuk peralihan lagu yang tidak rapi.

Masih berkaitan dengan peralihan, keutuhan dan tempo jangan sampai ada tempo yang jomplang dari yang tadinya cepat menjadi sangat lambat. Maka ini terjadi inkonsistensi dalam tempo. Sangat baik untuk diperhatikan, bahwa melantunkan Al-Qur'an temponya harus tepat. Tidak terlalu cepat tidak pula terlalu lambat, dan suara yang lebay atau terlalu melo biasanya akan menyita jatah waktu yang ada. Ini bisa membuat jumlah lagu menjadi berkurang sementara untuk mengejar jumlah semestinya ternyata waktunya habis.

Irama, Gaya dan Variasi adalah berkaitan dengan harmoni suara yang menghasilkan citra indah dengan bobot yang bervariasi dari yag mudah sampai sulit. Yang terpenting dalam hal ini adalah peserta harus berupaya melantunkan Al-Qur'an dengan Lahjah Arabiyah. Sedangkan gaya yang dipakai atau variasi yang digunakan harus diimbangi dengan dzauq atau citra yang timbul dari penghayatan keagngan makna-makna ajaran Allah dalam Al-Qu'an.

Demikian untuk sementara Catatan ini. Semoga bermanfaat ... !!!

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.