Alasan-Alasan Kenapa Harus Berdo'a

Selain merasa sebagai kewajiban, berdo'a merupakan kesengan tersendiri bagi saya. Selain bisa mencurahkan segala isi hati, perasaan, kekaguman, keinginan dan harapan. Namun juga berdo'a merupakan pengalaman batin yang paling dalam dan mendasar.

Saat saya berdo'a saya sangat mengakui bahwa pada titik yang paling inti, manusia sangat mengagumi Tuhan yang selama ini dipercayainya, diandalkannya, dan sangat dibutuhkannya. Ia merasa terlindungi dan teramat diperhatikan. Bahkan semua yang terjadi padanya serasa indah setelah ia ahu bahwa Tuhannya itu teramat baik dan bijaksana.

Berdo'a bukan lah hanya sekedar memberitahukan kebutuhan-kebutuhan, namun juga berdo'a adalah mencurahkan cinta kepada satu dzat Maha Indah yang sangat dirindukan. Ia selama ini telah begitu baik dan kebaikanNya tidak dapat dihitung lagi saking banyaknya.

Dipikir-pikir ternyata banyak hal yang belum sempat disyukuri. Berantai keberuntungan dan keajaiban pernah kita rasakan sebagai bentuk kasih sayangNya kepada kita. Sampai di sini pemahaman akan mukjizat atau bantuan Allah begitu memikat hati dan menghilangkan prasangka buruk padaNya.

Manusia MerindukanNya

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Ia selalu mencari sumber hidup dan Dzat yang menghidupinya dan menghidupkannya selama ini. Ia terus berupaya mengenali Siapa yang telah memberinya kehidupan selama ini. Dengan kemampuan olah pikirnya ia berusaha mendekati Dzat itu dan ia teramat sangat percaya bahwa ada sesuatu yang indah lebih dari dirinya.

Pencarian itu terus berlangsung dari awal hingga akhir dan tidak akan pernah berhenti melewati qurun dan zaman, abad dan masa, detik dan waktu yang saling berganti melewati fase-fase yang terus bersambung, hingga manusia tiba pada titik umur dunia.

Kerinduan manusia terjawab sudah dengan kabar dari langit, bahwa Dzat Maha Indah itu sendiri yang akan mengenalkan diri. Di sini cukup menjadi penawar rindu dan tanya selama ini. Namun tentu belum bisa menjawab sepenuhnya, karena Dia yang Maha Indah hanya mengenalkan diri lewat firman yang disampaikan kepada utusan-utusanNya. banyak yang tidak puas hingga meminta para utusan untuk menyampaikan prmintaan mereka kepada Yang Maha Indah agar bersedia menampakkan diri dengan wujud asli. Ada juga yang merasa puas dengan kabar itu. Bahkan diantara mereka sanggup "melihatNya" dengan sangat jelas. Mereka berkata tidak mungkin Ia yang Maha Indah tersembunyi karena keberadaan semua ini tamak karena keberadaan wujudNya.

Sadar Akan Kelemahan

Dengan kehebatan akalnya manusia sanggup menemukan kebenaran masa lalu atau pun masa depan. Ini bukan sihir namun logis yang berdaya. Dengan akal budi yang hebat manusia mampu terbang menembus awan dan mengarungi samudera alam yang berenang. Ia sanggup pula menyelami dasar samudera dan menerobos bumi hingga ke titik palng jauh.

Begitulah kehebatan manusia. Namun manusia yakin bahwa kecerdasanya bukanlah ciptaannya sendiri. Ia telah sanggup menciptakan peralatan moderna, namun di saat itu pula ia tidak akan sanggup menjawab kenapa ia bisa berpikir dengan secerdas itu. Di sini ia sadar bahwa ada kekuatan Maha Cerdas yang lebih dari dirinya.

Manusia, dibalik keperkasaannya, ternyata menyimpan pula kelemahan. Ia tidak sekuat gajah, tidak setingg jerapah. Ia adalah makhluk cerdas yang sanggup menundukkan mereka yang bertubuh besar dan berkekuatan besar. Sampai disini pun manusia akan bertanya kenapa ia tidak sebesar gajah dan tidak setinggi jerapah. Adakah teknologi yang diciptakannya menghasilkan generasi penerus yang badannya mirip gajah dan jerapah dengan kekuatan yang sebanding?

Bila Tanpa Allah, Manusia Bukan Apa-Apa

Benar sekali bila tanpa pertolongan dari Allah maka kita akan binasa. Renungkan siapa yang membuat ibu kita sangat sayang kepada kita. Bukankah kita hanya memberati ibu kita dan menyesakkan perut dan pernafasannya. Siapa yang menjamin bahwa ibu kita akan merawat kita dengan baik. Siapa pula yang menjamin ibu kita tidak akan mengaborsi kita saat ada dalam rahimnya. Bila tanpa pertolongan Allah tentu kita sudah binasa.

Siapa yang megajarkan kita menangis saat bayi. Bukankah saat kita lapar atau sakit kita hanya bisa menangis. Lalu kenapa mendengar tangisan kita mendadak ada hadiah air susu yang menegarkan kita. Bila tanpa pertolongan Allah tentu kita sudah binasa.

Siapakah yang mengajarkan kita tersenyum saat bayi yang membuat orang menjadi tambah sayang dan kangen ingin melihat dan mencium pipi kita. Dibuatnya kita menjadi lucu dan menggemaskan hingga mereka tidak henti mencandai kita. Bila tanpa pertolongan Allah maka kita telah binasa.

Sekian dulu yah...

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.