He Who Pays Has The Say, Gue Beli Suaramu

Sedekah atau derma dalam peradaban manapun sangat diagungkan. Ini bentuk dari perhatian dan rasa senasib sepenanggungan, empati, dan rasa kebersamaan. Memberi dengan tulus ikhlas membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.

Manusia adalah makhluq yang unik. Ia memilki dua potensi ruhani yang saling bertolak belakang. Terkadang ia murah hati dan dermawan. Di saat yang lain ia sangat kejam dan kikir.

Sifat buruk manusia yang berkaitan dengan harta benda diantaranya; Tamak atau rakus. Sifat inilah yang mendorongnya untuk bekeja keras mengumpulkan pundi-pundi harta dan uang. Kamudian ada sifat kikir. Setelah tahu bahwa berusaha itu melelahkan kadang-kadang untuk memberikan sebagian hartanya walaupun sedikit menjadi sangat berat.

Saat ini, ketika paham materialism semakin menunjukan merajalela maka semua nya diukur bedasarkan kebendaan. Spiritualitas any sebagai obat penenag yang dipakai dan dipercaya hanya dalam bingkai kebendaan dan hanya sekejap digunakan.

Masa-masa ini menjadikan uang sebagai ukuran. Saat derma digembor-gemborkan dengan membuat acara yang hanya membuat mereah muka sang penerima. Sedekah digunakan untuk mendongkrak populartas, infak digunakan untuk untuk menambah pamor dan ajang riya.

Sudah maklum adanya bahwa uang adalah alat yang bisa dipergunakan dengan baik ataupun untuk jalan yang tidak baik. Dan kita akan menyoroti penggunaan uang yang salah. Kita mengetahui bahwa uang bisadipakai untuk membungkam suara kebenaran, bisa juga untuk membungkam suara lawan, uang dapat juga digunakan untuk membeli suara rakyat agar ia bungkam dan menerima perbatan jahat yang direncanakan, uang bisa digunakan juga untuk membungkan suara hukum, uang pun bahkan bisa membungkam sara nurani, bahakn uang digunakan oleh orang yang ingin membungkam suara Tuhan, sayang mereka tidak akan bisa melakukannya.

He Who Pays Has The Say ungkapan ini mendapat maknanya yang baru. Tadinya mengandung muatan yang mulia. Dengan ingin berderma sebanyak-banyaknya dengan cara bekerja dan menghasilkan banyak uang. Dan sekarang ungkapan ini malah bermakna bahwa dengan uang siapapun menjadi bisa berbicara banyak dan pembicaraannya akan didengarkan walaupun muatannya tidak ada manfaatnya. Dengan uang ini suara orang lain bisa dibeli hingga bungkam lah mereka yang suaranya telah dibeli. Rakyat tidak sanggup lagi protes, mengkritik, ataupun memberi saran, karena merasa tidak sanggup membalas jasa atas bantuan materi yang didapatkan.

Ini bisa terbukti dewasa ini. Siapapun yang memilki uang banyak maka tidak usah mencari kawan karena kawannya akan banyak dengan sendirinya. Mereka tidak perlu mencari penghormatan dan penghargaan orang lain karena mereka dengan sendirinya akan banyak yang menghormati. Untk berbicara banyak mereka tidak usah sekolah tinggi dan mengantongi ijazah keahlian tertentu karena para penyelenggara acara-acara akan memintanya dia berbicara. Untuk berkhutbah tidak usah pula ia mengikuti kursus retorika karena dengan tulus orang-orang akan mendengarkanpembicaraannya.

He Who Pays Has The Say itulah ungkapan dan cerminan dari masyarakat yang materialis. Rakyat akan bungkam saja dengan kesalahan-kesalah orang-orang yang dianggap telah berjasa kepada mereka. Sangat cocok, bagaikan Fir’aun dan rakyatnya. Fir’aunnya durjana sementara rakyatnya suka dengannya.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.