Don’t Take It Into Your Heart, Jangan Sulit

Manusia bukan hanya berpikir tapi juga mersa. Dua potensi ini punya daya yang sangat besar. Terkadang dua perasaan ini saling bertarung. Satu saat daya piker menang atas daya rasa. Di saat lain daya rasa menang atas daya pikir.

Dalam persaan ada potensi yang saling bertolak belakang. Ada yang membawa kepada jalan kebaikan da nada yang menjerumuskan kepada jalan yang tidak benar. Dayan alar sebagai penengah bila masih jernih maka bisa memutuskan yang mana yang benar dan mana yang salah. Namun bila kekuasaan rasa yang ditumpangi dengan bisikan jahat maka daya nalar menjadi kabur daya analisisnya sehingga membuatnya tumpul dan tidak bisa mennghakimi.

Sebenarnya, semua yang terjadi di lingkungan manusia selalu akan direspon oleh dua potensi ini. Pikir dan rasa yang masih suci pasti akan mengarah kepada kesucian.

Dengan ini ungkapan “Don’t Take It Into Your Heart” ini pada dasarnya bukan untuk menapikan peran rasa. Namun artinya kita harus bersikap cerdas dan pandai memakanai ucapan orang yang dirasa menyudutkan, menyakitakan, atau mencoreng harga diri kita.

Orang yang bijak akan menanggapi semua kritik, nasihat, dan ewejangan dengan baik. Ia akan mendengarkan dengan seksama. Ia kemudian mengemas dan meramunya agar menjadi obat atau pupuk bagi tumbuh kembangnya kepribadian dirinya.

Don’t Take It Into Your Heart bukan berarti kita mengabaikan nasuhat orang lain, namun kita buang yang yang bukan esensi dan mengambil yang esensi dari ucapan itu. Kita maknai dengan baik. Dengan sikap seperti ini kesuksesan dalam hidup maknanya akan semakin luas dan mencakup banayak kesuksesan yang bisa diraih.


logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.