Das Heilige ala Kang Aip

Kesucian yang ingin dikemukakan bukan soal kesucian agama. Agama Islam dan ajaran yang terkandung di dalamnya semuanya suci. Nabi Muhammad serta sunnahnya semuanya suci. Itulah kesucian yang terjamin secara dalil akal apalagi dalil Naql.

Sekarang adalah mengenai kesucian praktis yang bisa dipahami dan diamalkan oleh para pemeluk Al-Islam. Agama Islam telah mewajibkan kepada umatnya agar selalu menjaga kesucia. Kesucian batin dan lahir sangat diperhatikan. Ayat dan bayinat tentang kesucian batin dan lahir sangat melimpah.

Dimulai dari pendidikan batin saat sebelum dua insan saling bertatap mata kemudian bersua badan dalam pernikahan. Maka sebelum ia mencari pasangan hidup bahakan semenjak masa masih belia ia seharusnya diajarkan cara mensucikan hati. Sampai menginjak balig ayah bundanya terus mendampingi agar kesucian hatinya semakin bertambah dengan sedikit-demi sedikit diajarkan ilmu-ilmu tentang hati dan cara-cara membersihkannya. Kemudian saat ia dewasa dan telah cukup untuk melangsungkan pernikahan. Proses menuju tahapan ini wajib ia lakukan dengan penuh kesucian. Tanpa tatapan liar yang berdosa, tanpa sentuhan kulit, tanpa khalwat, dan sebagainya. Kemudian masa masa membangun rumah tangga ia harus tetap selalu menjaga kesucian hati. Bersama isteri, anak, cucu, menantu, tetangga, kerabat, sahabat ia berpadu mempertahankan dan meningkatkan kesucian. Saat-saat ini sekaligus ia mengajarkan kesucian jiwa kepada keturunanya. Terus begitu sampai ia berjumpa Allah dengan hati yang taat, berserah, tunduk, damai, dan suci.

Setelah membicarakan kesucian batin, tahapan yang harus berbarengan dengan hal di atas adalah berusaha agar badan, pakaian, rumah, kantor, masjid, jalanan, pasar, pokoknya lingkungan hidupnya diusahakan sekuat tenaga agar suci bersih. Makanan yang akan ia berikan kepada dirinya, keluarga, dan orang-orang yang ada dalam tanggungannya haruslah makanan yang baik, sehat, dan bergizi, tidak mengandung babi, tidak ada di dalamnya unsur yang diharamakan. Kemudian asupan makanan harus pula sesuai aturan dan takaran. Jangan memakan makanan yang baik untuk orang lain dan tidak baik untuk kita. Pada asalnya semua tumbuhan dan hewan boleh dimakan sampai ada keterangan yang jelas bahwa itu haram, atau sampai ada resep dokter yang menyatakan bahwa makanan itu berakibat tidak baik bagi kesehatan.

Air yang diminum juga harus suci, bersih, sehat, bermanfaat bagi tubuh. Berusaha tidak meminum minuman yang bersifat minuman sampah atau dalam bahasa bulenya ‘junk food’. Seperti dalam hal minuman ada yang sudah jelas diharamkan. Kajian ushul fiqh banyak menjelaska tentang ini. Atau ada research dan hasil penelitian yang menyuguhkan fakta dan data bahwa minuman tertentu sangat berbahaya bagi tubuh.

Seluruh Inadah dalam Al-Islam selalu diawali dengan bersuci dan bersih-bersih. Kebersihan atau kesician hati lah yang mengawalinya. Bila belum bersih hatinya maka ketika sesaat melakukan amal ibadah maka sesegera mungkin berusaha untuk mensucikan hati.

Kalimah Basmalah yang dilantunkan lisan sebelum Berwudhu – misalnya - harus menjadi cerminan kesucian hati. Wudhu adalah bagian dari ajaran islam yang mengejawantahkan makna kesucian. Dan sebelum berwudhu dan ketika berwudhu, sampai nanti setelah berwudhu maka kesucian ati jangan sampai ternodai. Dengan ini Basmalah yang diucapkan lisan harus terlebih dahulu dimaknai hati. Bahwa ibadah yang dilakukan harus suci murni dari riya’, sum’ah, u’ujb, takabbur. Ibadah yang dilakukan atas nama Allah tidak mungkin harus kita mencemarkan namanya dengan berbuat curang dan menyimpang dari aturannya.


Deikianlah semoga kita termasuk yang disucikan oleh Allah yang Maha Suci. Takutlah kita dari disebut sok suci oleh Allah swt di akhirat kelak.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.