Cogito Ergo Sum

Saat belajar di Madrasah Tsanawih dahulu saya sudah tahu istilah ini. Ada banyak pertanyaan mengenai istilah atau ungkapan ini. Alam pikiran yang masih anak-anak membuat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan lebih terkesan lucu da nasal-asalan.

Kawan saya dahulu pernah mengibaratkan ungkapan ini dengan analogi ayam dan telurnya. Apakah yang dahulu ada itu ayamnya dahulu atau telurnya dahulu. Nah dalam ungkapan ini juga pertanyaannya hamper sama; berpikir dahulu baru ada ataukah ada dulu baru berfikir.


Untuk menjawab pertanyaan itu sangat mudah. Karena alam filsafat itu berada dalam ranah relativitas sehingga jawaban apapaun harus diterima. Dan bagi yang beragama jawabannya juga sangat sederhana; selama itu makhluq berarti Allah Maha Kuasa untuk menciptakannya dari bahan apapun bahkan dari iada bahan dan tiada contoh atau model sama sekali.

Dalam menyelami atau memberikan makna Cogito Ergo Sum ini setiap orang mngkin berbeda-beda kesan dan pendapat. Bila diselami dapat juga diambil hikmahnya bahwa keberadaan manusia harus meningkat dari hanya sekedar ada, menyempitkan bumi, dan memperberat timbangan, lalu mati, menjadi lebih berguna.

Diantara cara yang dapat meningkatkan derajatnya adalah dengan cara menggunakan pikiran secara maksimal. Memeras otak adalah bentuk dari cara manusia agar lebih bermanfaat. Dengan ini keberadaannya akan semakin meningkat, bahkan eksistensinya akan abadi tercatat dalam tulisan sejarah dan buku-buku, namanya akan dibicarakan banyak orang di lintas generasi, buah pemikirannya akan diperbincangkan dan dikaji dalam forum-forum yang terhormat.

Maka dengan ini marilah kita berpikir kritis agar keberadaan kita benar-benar ada.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.