Batu Bleneng Tol Cipali dan Sikap Muslim Terhadapnya

Batu Blenang adalah salah satu kata yang banyak dicari oleh para pengguna internet. akhir-akhir ini ia semakin banyak dibicarakan orang karena keangkeran dan keanehannya. Yang pertama banyak dibicarakan orang adalah tentang tidak bisa dipindahkannya batu ini. Selain itu batu ini -katanya- tidak bisa dihancurkan oleh alat apapun.

Cerita ini semakin menambah penasaran orang. Letaknya yang ada pada KM 182 ruas Tol Cipali yang baru dibuka dan diresmikan. Sudah menjadi hal umum bila selalu ada cerita menarik pada sesuatu yang pertama beroperasi, baik jalan, jembatan, gedung atupun yang lainnya.

Saat uji coba, di Tol Cipali telah beberapa kali terjadi kecelakaan. Sesaat setelah kejadian bermunculan beragam komentar yang berbau mistis terhadap kejadian-kejadian itu. Adanya makhlus halus yang murka dan lain-lain pun semakin menyeruak.

Adanya Batu Blenang yang katanya aneh ini semakin menambah daftar kekhawatiran orang-orang. Padahal yang terpenting ketika berjalan baik berkendara atau tidak seharusnya lebih fokus dan pikiran tidak boleh lengah.

Sikap Seorang Muslim

Terhadap fenomena alam yang ajaib, kaum muslimin menganggapnya sebagai kejaian yang telah ada dalam ilmu Allah dan pengaturanNYa. Maka sesuatu yang tampak aneh dan ajaib dalam pandangan Allah tidak begitu. Hanya manusia yang terbatas ilmu dan hikmahnya saja yang menganggapnya sebagai ajaib. Maka bila kemudian dihubungkan dengan kekuatan lain selain Allah hingga menyimpang akan prinsip keyakinan yang benar, tentu sikap ini menjadi kontra produktif dan tidak bermanfaat.

Berkenaan dengan berita bahwa batu itu bertuah karena dahulu pernah dijadikan sebagai tempat semedi dan bertapa, maka perlu disikapi dengan benar. Bertuah dalam arti mampu mengabulkan do'a atau kalau kita berdo'a di sana maka do'a dan hajat kita cepat terkabul, itu adalah tidak benar. Berdo'a tentu boleh di bumi Allah yang manapun asalakan bersih dan suci, bukan di WC atau di tempat yang kotor, bahakan walaupun di WC atau di tempat kotor asal hati tetap terhubung dengan Allah tentu itu sangat baik.

Maka bila saja benar bahwa dahulu batu itu adalah tempat semedi dan tempat orang bertapa dengan amalan yang tidak benar, maka sikap kita adalah berlindung kepada Allah dari godaan makhluk jahat yang menghuni tempat itu. Di hadapan Allah semua makhluk tidak ada yang punya kekuatan sekecil apapun.

Kemudian bila saja menurut cerita orang banyak bat itu tidak bisa dipindahkan, maka sikap yang terbaik adalah tidak berprasangka dengan sangkaan yang tidak baik. Batu itu tidak bisa dipindahkan karena terlalu besar, bukan karena tidak bisa dipindahkan. Kata yang tepat adalah "belum" dipindahkan karena mungkin menunggu waktu yang tepat, atau memang sengaja "tidak akan dipindahkan" yang nantinya akan dijadikan tanda atau hiasan.

Selanjutnya, cerita tentang tidak bisa dihancurkannya batu ini, maka sikap terbaik adalah adalah tidak berprasangka buruk atau menyangka bahwa batu ini punya kekuatan supranatural. Namun mungkin batu ini "belum" dihancurkan, atau "sengaja" tidak akan dihancrkan, mengingat bentuk dan ukurannya yang unik.

Penutup

Saat hendak bepergian maka lantunkanlah;
بِسْمِِ اللهِ الرَّحْمنِ الرحِيْمِ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ مِنْ شرِّ مَا خَلَقَ
Setelah itu kita bisa membaca Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Kemudian kita mohon keselamatan dan perlindung. Kita bisa berdo'a dengan lafadz;
اّللّهُمَّ سَلِّمنَا مِنْ آفَاتِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Setelah itu kendarailah kendaraan dengan hati-hati dan fokus. Teruslah berdzikir dan jauhkanlah dari pembicaraan yang tidak baik dan tingkah laku yang buruk.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.