Musholla Berkolam di Celah Batu

Dahulu pernah saya berkunjung ke Muria. Dalam rangkaian tour ziarah Wali Songo kami sengaja-berziarah-berkunjung ke komplek pemakaman Sunan Muria. Untuk sampai ke komplek pemakaman ita harus menaiki anaka tangga yang banyak karena tempatnya berada di sebuah bukit yang tinggi. Sekitar seribu anak tangga harus kami lalui. Berjajar rapi toko-toko di sepanjang jalan yang kami lewati. Beberapa kali kami beserta guru Kami, Bapak KHR Edi Komarudin, Mag, Harus berhenti dan menghela nafas. Bisanya Bapak membelikan kami pisang rebus, kacang tanah rebus, dan umbi rebus, Tidak lupa saya membeli kaset Tilawah yang dibawakan dua qari ternama Indonesia, Muammar dan Chumaidi yang saya gemari. Bapa juga membeli satu tongkat sebagai alat yang dapat membantunya dalam berjalan.

Sesampainya di atas, luar biasa. Emandangannya begitu indah. Kita bisa melihat ke bawah dan saya terkagum-kagum. Pantas saja Sunan Muria dahulu memilih tempat ini sebagai pusat penyebaran ilmu dan ajaran Islam. Benar-benar nyaman, sejuk dan indah.
Masjidnya, saya pikir ini adalah salah satu masjid terindah yang kami kunjungi.
Kebersihan dan arsitekturnya menghadirkan kenyamanan. Sempat saya berpikir bahwa kenyamanan yang ada adalah timbul dari aura do’a-do’a yang dilantunkan kangjeng Sunan pada masa dahulu. Ia sering mendoakan umat dalam sunyinya malam atau terangnya siang dalam hati yang tersembunyi. Jadinya hal ini abadi dalam catatan Allah hingga lantunan ayat-ayat suci, do’a, dzikir, munajat, dan shalawat menurunkan sakinah dari Allah hingga saat ini.


Satu lagi di komplek pemakaman ini ada satu Makam Sunan Muria. Yang Nampak berbeda adalah suasananya lebih tertib dan adem ayem di banding dengan tempat ziarah yang lain. Kebersihannya sangat terjaga.

Di atas Bukit Batu

Satu lagi tempat yang indah yang kami temui adalah di Desa Gelar Pawitan. Ini bukanlah tempat peziarahan. Namun bukan berarti tidak kami temukan keindahan di sini. Kata orang bijak, “bila hati bersih dan dalam kondisi yang baik, maka ia akan selalu bisa menemukan sudut pandang yang baik dalam setiap hal. Dan sebaliknya bila hati sedang tidak baik, maka ia akan selalau bisa bertemu dengan keburukan meskipun di depan Baitullah sekalipun.” Mudah mudahan hati kita selalau baik dan berada dalam bimbingan Allah swt.

Kesamaan dari dua tempat ini adalah terletak di bukit berbatu. Untuk mencapai Gelar pawitan bukanlah satu perjalanan mudah. Empat kali saya datang ke sini. Pertama dahulu ketika masih kecil, usia SD saat itu, kami berangkat ke sana untuk menghadiri MTQ tingkat Kabupaten Cidaun. Dari Karang Wangi kami harus berjalan kaki. Dari sana sekitar jam 09.00 dan sampai ke Gelar Pawitan setelah Isya. Sepanjang jalan hujan sangat besar mengguyur sekujur tubuh. Saya bersama Deni Sugilar dan guru-guru kami salah satunya Bapak D Wajihadin dan ombongan Peserta MTQ dan Para aparat Desa Cidamar tetap semangat melanjutkan perjalanan.

Perjalanan kedua kami lakukan bersama Bapak Budi, Bapak Haji Nunu, dan Bapak Deni. Tujuan kami saat itu adalah menghadiri walimatussafar hajian Bapak Mamat. Namun ternyata saat itu kami ada misscomunikasi karena pelaksanaanny akan dihelat pada malam besoknya.

Yang ketiga kalinya adalah saat kami berkunjung ke rumah orang tua Sri Wulan Purnamasari dan orang tua Santi. Saat itu musim durian dan kami disuguhi banyak durian yang baru diturunkan dari pohonnya. Durian Gelar pawitan adalah varietas unggul durian di daerah Cidaun.

Keempat adalah ketika anak-anak STIT Insida sedang melaksanakan KKN. Saat tulisan ini dimuat kami sedang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sayang di Gelar Pawitan signal HP dan Internet belum masuk hingga kami harus menunda posting tulisan ini beberapa saat.

Sejajar bersama Awan

Kami menyusuri jalanan berbatu dan menanajak hingga sampai di tmpat tinnggi. Ada SD Gelar Pawitan, masjid, lapangan, Kantor Desa, dan perkampungan. Tempat tinggi ini menghadirkan kembali kenagan di Muria.

Kami sujud di masjid kecil yang biasa disebut Mushalla. Begitulah orang Indonesia menyematkan kata musholla untuk masjid yag berukuran kecil. Ada perbedaan dengan orang mesir yang menyematkan kata musholla untuk lapangan luas tempat sholat Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan.

Tempat tinggi ini sekaligus menggambarkan keinginan. Suatu saat nanti ingin punya rumah seperti rumah Bapak Momon yang megah, indah, bersih dan sejuk. Keinginan ini semoga menjadi doa dan motivasi. Lingkungan yang asri, sejuk, air bening dan henti mengalir, suara alam begitu jelas terdengar, itulah yang kami -saya khususnya- dambakan. Satu lagi yang diharapkan adanya infrastruktur bagi fasilitas telekomunikasi dan internet aga bisa saling berbagi informasi.

Bersama awan kita sejajar dan bumi telah menyentuh langit bunga hati mekar mengahdirkan Allahu Akbar …

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.