Beyond our capacity, be something real

Antara ambisi dan tahu diri itu harus seimbang. Manusia harus punya ambisi besar terutama dalam beribadah. Cara meningkatkan ambisi kita adalah dengan meneliti dan mengkaji sejarah atau peri hidup orang-orang yang didekatkan kepada Allah dalam hidupnya. Biografi atau sejarah hidup yang paling pertama yang harus kita kaji adalah sejarah hidup Rasulullah saw. Sudah banyak kajian mengenai tema besar ini. Sudah banyak pula pendapat para pakar yang menyatakan penghormatan seagung-agungnya kepada Nabi Muhammad saw.. Setelah itu kita kaji pula sejarah dan bagaiman ibadah orang-orang yang dekat dengan Nabi. Kemdian para tabi’in dan kalangan mutaakhirin hingga sekarang. Bagi yang suka mencari hikmah maka tokoh adalah hikmah itu sendiri Pandangan yang tajam dan bersih suci akan mampu menemukan hikmah dalam setiap kejadian.

Setelah kita berusaha dan berkarya tahapan selanjutnya adalah evaluasi. Ini sangat penting dan menentukan. Kedisiplinan untuk mengevaluasi diri akan meningkatkan kemamapuan manusia dalam bidang apapaun tidak terkecuali ibada kepada Allah. Dengan evaluasi kita akan mamapu mengukur diri akan posisi dan derajat kita saat ini. Dengan ini kita akan tahu mana yang masih kurang baik hingga harus diperbaiki dan mana yang sudah baik hingga kita berpindah kepada amalan atau kemahiran lain.


Dengan evaluasi ini kita akan mamapu mengembangkan sikap baik dalam menyeimbangkan ambisi dan tahu diri. Saat kita tahu masih banyak yang kurang kita berambisi untuk menutupi kekurangan itu.

Ambisi yang ada dalam dada akan mamapu membuat jiwa menjadi bersemangat dan pada akhirnya raga atau badan akan mendukungnya. Sudah menjadi tabi’at manusia yang asasi bahwa manusia adalah makhluk yang sanggup menahan penderitaan sejenak demi meraih kebahagiaan yang lebih lama dan abadi. Manusia akan mampu menahan kantuk demi meraih cita-citanya. Ia akan rela menahan lapar dan haus demi meraih apa yang ia inginkan. Manusia akan bersabar hidup serba kurang dan menderita untuk meraih kesenangan yang abadi.

Kemudian sikap tahu diri yang positif bukan mnder aakan membuat manusia lapang dada menerima dan mengakui bahwa saat ini Ia belum bisa dan tidak ahli dalam suatu masalah sambil tetap meingkatkan ambisi untuk bisa. Dengan sikap ini ia tidak akan asal berbicara dan menjawab. Ia juga tidak asal menerima pekerjaan yang ditugaskan kepadanya sementara ia bukan ahlinya dalam bidang itu.

Peliharalah ambisi berkebaikan dan di saat yang sama kita harus tahu diri kalau memang kita tidak bisa.

logoblog
Previous Post
Posting Lebih Baru
Next Post
Posting Lama

Post a comment

Copyright © Sarip Hidayat. All rights reserved.